Monthly Archives

7 Articles

Posted by adminbemits on

Warga Medokan Semampir Terombang Ambing

Kasus penggusuran rumah warga medokan semampir butuh perhatian lebih. Pasalnya warga tidak dilibatkan dalam proses sengketa hingga akhirnya proses penggusuran terjadi. Penggusuran tersebut dilakukan oleh pihak kepolisian dan banyak preman. Tak ternilai barang yang hilang, sebagian warga terluka akibat proses penggusuran. Sayangnya, pada proses ini rawan akan kepentingan pihak tertentu mengingat 2015 merupakan tahun pemilihan walikota baru Surabaya.

Proses Sengketa

Awalnya kasasi sengketa lahan oleh pengembang (PT. S*C Nusantara) dengan para petani dimenangkan pihak petani. Kasasi tersebut tidak dikabulkan oleh MA dengan beberapa alasan. Perlu diketahui pengembang tersebut merupakan salah satu investor pantai timur Surabaya, rencananya kawasan tersebut akan dibuat SSC (Surabaya Sport Center). Sedangkan para petani adalah penggarap lama yang sudah menetap di kawasan tersebut.

Dalam hasil putusan Mahkamah Agung No.1347 K/Pdt/2011 disebutkan bahwa kawasan tersebut (batas timur dan selatan yaitu Sungai Brantas Jagir Wonokromo) merupakan tanah negara bebas. Kedua pihak yang bersengketa menggunakan alasan yang sama. Para petani memiliki alasan kuat karena telah menduduki tanah tersebut sejak lama. Sedangkan pengembang beralasan para petani tidak berhak menempati tanah bebas negara karena kawasan tersebut milik pemkot Surabaya.

Pasca kasasi penggusuran dilakukan dua kali, yang pertama digagalkan warga, sedangkan yang kedua (5/1/15) eksekusi 10 hektar mulus terlaksana. Warga mengaku tidak tahu menahu atas perkara penggusuran tersebut, mereka mengatakan bahwa tanah tersebut mereka beli dari seseorang. Terpaksa hingga kini warga hidup bergotong royong membuat posko sementara di pinggir tanggul sungai.

Warga mendapat bantuan dari pemkot Surabaya makanan, namun kemarin sudah dihentikan stok makanan tersebut. Kondisi terkini warga juga mendapat perhatian dari anggota DPRD, mereka menjanjikan tanah warga yang tergusur kembali. Mereka beralasan bahwa kawasan sempadan Sungai Brantas Jagir Wonokromo selebar 50 m dari tanggul sungai adalah milik negara yang dikelola oleh dinas PU sesuai Peraturan Menteri PU nomor 70 tahun 1996 dan Peraturan Gubernur Jawa Timur nomor 134 tahun 1997.

Peraturan tersebut benar adanya, tanah tersebut adalah tanah sempadan sungai milik negara. Namun, sesuai dengan PP No.38 Tahun 2011 mengenai Sungai, pada Pasal 22 ayat 2 terdapat pelarangan mendirikan bangunan. Adapun sempadan sungai diperbolehkan hanya untuk pengembangan wilayah sungai (Pasal 57 ayat 2). Rupanya warga berharap lebih terhadap janji anggota DPRD mengusahakan wilayah tersebut.

Di sisi lain informasi dari warga Ibu Risma sudah memberikan solusi yaitu pindah ke salah satu rusun di daerah Gresik (belum bisa dikonfirmasi). Namun, warga enggan pindah dengan alasan terlalu jauh dengan lokasi pekerjaan mereka. Isu yang beredar keberadaan rusun tersebut dipertanyakan oleh warga, ditegaskan juga oleh salah satu anggota DPRD.

 Dibalik semua ketidakjelasan tersebut (dalam konfirmasi) telah diketahui bahwa hingga kini warga masih membutuhkan uluran tangan. Warga mengaku hingga saat ini belum ada yang mulai bekerja, selain itu sebagian besar anak-anak belum kembali ke sekolah karena peralatan sekolah mereka ikut hilang tergusur. Sebagian warga yang sudah ditemui berharap adanya bantuan dari mahasiswa, baik dari segi advokasi, dana, kesehatan, dan mengajak anak-anak mereka bermain agar terhilang dari stress. Lantas kita hanya diam? Ayo turun tangan!
1421723007100

Posted by adminbemits on

Gerakan untuk Medokan Semampir

1421770339548

Warga Medokan Semampir Surabaya menjadi korban penggusuran pada senin (5/1) lalu. Sebanyak 73 keluarga terkena sengketa tanah atas rumah mereka, sekarang terdapat banyak anak putus sekolah karena kehilangan peralatan sekolah dan rumah mereka. Maka dari ITS BEM ITS yang dikomandani oleh BSO IECC turun langsung ke Medokan Selasa (20/1) kemarin.

Selasa, (20/1). BEM ITS khususnya teman-teman ITS Mengajar serta beberapa relawan berangkat menuju lokasi pengungsian korban penggusuran tanah di Medokan, Semampir, Surabaya. Kedatangan kami disambut baik oleh ketua paguyuban di sana. Kedatangan kami bertujuan untuk melihat kondisi adik-adik pasca penggusuran yang terjadi pada tempat tinggal mereka. Kami pun diarahkan menuju tempat berkumpulnya adik-adik korban penggusuran.

Adik adik medokan semampir dengan semangat memperkenalkan diri. kami mengarahkan mereka untuk membaca doa sebelum belajar. Mereka tampak antusias ketika membaca doa. Selesai membaca doa, kami berpindah tempat untuk mengajak mereka bermain bersama. Kami mengajak mereka melakukan beberapa ice breaking juga melakukan tarian hoki coki bersama-sama. Mereka tampak ceria dengan permainan ice breaking maupun tarian hoki coki yang kami ajarkan. Lalu, kami membagi mereka dalam dua kelompok, yaitu kelompok perempuan dan kelompok laki-laki untuk melakukan suatu permainan.

Kelompok laki-laki bermain dengan menyusun batu untuk membentuk sebuah tulisan, sedangkan kelompok perempuan mendengarkan dongeng yang di ceritakan oleh seorang relawan. Melalui permainan dari dua kelompok tersebut, kami ingin menyampaikan tiga pesan kepada adik-adik Medokan, Semampir yaitu berdoa, belajar dan mambantu orang tua

Setelah permainan selesai, kedua kelompok berkumpul kembali untuk bernyanyi bersama. Kami menyanyikan lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Terimakasih Guruku, Hari Merdeka dan lagu-lagu yang berhubungan dengan pendidikan lainnya. Setelah lelah bermain dan bernyanyi, kami membagikan makanan kecil kepada adik-adik. Mungkin yang kami lakukan belum seberapa, tapi melihat keceriaan mereka selama kegiatan yang kami usung bersama mampu menjawab kekhawatiran kami atas kondisi mereka saat ini.

Untuk menutup kegiatan sore itu, kami menutupnya dengan doa bersama.

Tidak lupa, kami mengabadikan kebersamaan kami dengan berfoto bersama mereka.

jangan biarkan mereka kehilangan harapan,
jangan biarkan mereka kehilangan senyuman
dan jangan biarkan mereka kehilangan impian
kalo bukan kita, siapa lagi? #yokturuntangan

Posted by adminbemits on

Bencana [lagi], Apakah Aceh Siap?

10 tahun silam tepatnya pada 26 Desember 2004, Aceh dilanda tsunami yang menewaskan hingga 160.000 jiwa. Berbagai macam upaya telah dilakukan pemerintah untuk merevitalisasi kembali kependudukan dan perekonomian penduduk Aceh,mulai dari infrastruktur jalan raya hingga pariwisata secara kilat pun dibenahi. Mengingat Aceh berdiri di atas pertemuan dua lempeng dunia, Aceh termasuk wilayah yang rawan bencana.Sehingga diperlukan infrastuktur mitigasi yang memadai pula.

Namun yang menjadi pertanyaan, apakah Aceh telah siap jika mengalami bencana alam yang sama untuk kedua kalinya?

Menurut beberapa ahli, Aceh dinilai belum siap menghadapi bencana alam, dibuktikan dengan infrastruktur yang belum menggunakan system bangunan anti gempa. Pemerintah Aceh terkesan buru-buru dan ingin menyelesaikan pembangunan secepat mungkin agar perkenomian penduduk segera pulih dalam waktu singkat.Hal ini berarti pemerintah mengindahkan kualitas dari infrastruktur itu sendiri. Beberapa infrastruktur mitigasi bencana memang telah dibangun, namun kondisinya meragukan karena gedung-gedung penyelamat (escape building’s) tidak terawat. Gedung yang berjumlah 11 dan berkapasitas 500 orang ini tetap kokoh walaupun terkena gempa 10 Skala Ritcher. Hal ini tidak sebanding dengan jumlah total penduduk Aceh yakni 4.693.934 ( Acehprov.go.id, 2012 ). Sangat berbahaya jika dalam proses evakuasi penduduk berebut tempat aman di dalamnya.Bangunan di Aceh hanya dilengkapi alat pendeteksi datangnya gempa, tanpa disertai sistem anti gempa.

Lantas, Bagaimana sistem bangunan di Ibu Kota?

Lain halnya di Jakarta dimana bangunannya telah melewati berbagai penilaian tim praktisi dan ahli konstruksi bangunan. Hal ini berkaitan dengan persyaratan pembangunan yang dilakukan sangat ketat. Bangunan pencakar langit di Jakarta mempunyai daya tahan yang sama dengan bangunan di Jepang. Menurut Tim Penasehat Konstruksi Bangunan (TPKB), bangunan-bangunan pencakar langit yang ada di DKI Jakarta sudah cukup bagus. Pemerintah DKI Jakarta memastikan gedung-gedung pencakar langit di ibukota mampu tahan gempa hingga puluhan skala richter. Bahkan, kekuatan gedung berlantai lima keatas sekuat bangunan di Jepang yang masih berdiri kokoh meski dihantam gempa 9 skala richter.  Namun bedanya adalah pemerintah Jepang sudah secara rutin melatih warganya untuk menghadapi bencana yang kerap kali terjadi di negaranya.

Minimalisir bencana alam dengan penggunaan greenbelt

Salah satu infrastruktur mitigasi yang penting dalam peminimalisiran efek bencana alam adalah penggunaan greenbelt atau biasa dikenal dengan sabuk hijau. Greenbelt merupakan suatu konsep perencanaan wilayah/kota yang memisahkan kota-kota dengan jalur hijau sebagai latar belakang kota tersebut. Fungsi Greenbelt tidak hanya sebagai pemisah wilayah kota yang mengakomodir sarana rekreasi alam, namun juga berfungsi sebagai “pelindung” suatu kota dari bencana alam.Menurut penelitian dari Shuto (1987) dan Tanaka (2006),sabuk hijau efektif untuk meredam tsunami dengan ketinggian kurang dari 5 meter. Berbagai inisiatif upaya mitigasi bencana dengan vegetasi pantai telah dilakukan oleh berbagai pihak yakni dari institusi pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat, serta seluruh lapisan masyarakat.

RT dan RW baru yang menuai pro-kontra

Namun hal ini berbanding terbalik dengan pemberlakuan Peraturan Daerah No 19 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RT RW).Melalui RT RW yang baru, pemerintah Aceh berencana menghabiskan hutan Aceh dan menggantinya dengan perkebunan dan pertambangan dengan mengatasnamakan pembangunan. Jika rencana ini berjalan, Aceh akan menghadapi bencana ekologis yang akan mengorbankan ribuan nyawa dan menghancurkan penghidupan jutaan masyarakat.

Menurut Forest Political Campaigner Greenpeace, RT dan RW Aceh tidak memperhitungkan bencana yang akan ditimbulkan jika Leuser tidak menjadi kawasan lindung. Padahal Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) merupakan salah satu wilayah konservasi paling penting di muka bumi yang sangat kaya keanekaragaman hayati. Ditambah lagi KEL merupakan satu-satunya ekosistem di seluruh dunia dimana terdapat satwa langka seperti Orangutan, Badak, Harimau, dan Gajah co-exist dalam satu kawasan. Disaat yang bersamaan, KEL juga mendukung penghidupan lebih dari 4 juta jiwa masyarakat di Aceh dan Sumatra Utara. 

Letak geografis Aceh yang dihimpit oleh pengunungan dan struktur tanah yang labil menjadikannya sebagai wilayah rawan bencana. Bangunan anti gempa, penggunaan greenbelt, serta tetap berdirinya Kawasan Ekosistem Leuser merupakan solusi yang tepat untuk meminimalisir datangnya bencana alam yang sewaktu-waktu dapat menimpa Aceh.

Adhi Triatmojo dan Nanda Shofiyah
Staff Klub Keilmiahan 14/15

Posted by adminbemits on

RAKER BEM ITS : Awal Mula Perjuangan Kolaborator

a

“Acara ini merupakan pembekalan kalian di periode baru BEM ITS” ujar Presiden BEM ITS 2014/2015,Imran Ibnu Fajri, kepada peserta Pra Raker  BEM ITS  pada (12/01). Pra Raker merupakan awal dari Serangkaian acara Raker (Rapat Kerja) Bembaga Eksekutif terbesar mahasiswa ITS ini. Peserta dari pra raker sendiri  adalah para staff dari 13 kementerian BEM ITS 2014-2015, sedangkan acara raker dan internalisasi melibatkan seluruh fungsionaris BEM ITS 2014/2015. Kegiatan Pra Raker dan raker dilaksanakan di auditorium lantai 3 gedung SCC. Sedangkan internalisasi merupakan acara pamungkas yang dilakukan selama 2 hari di Pacet,Mojokerto.

Pra Raker, materi fundamental

Selama pra raker peserta mendapatkan materi fundamental yaitu visi dan misi selama satu periode kepengurusan, nilai-nilai yang berada di BEM ITS, budaya organisasi  dan perjalanan pergerakan mahasiswa.Menurut imran Ibnu Fajri dalam visinya, kabinet Kolaborasi BEM ITS 2014/2015 memiliki poin dinamis, kontributif dan kolaboratif untuk membangun peradaban Indonesia. Peradaban Indonesia sendiri dapat terbentuk dari kekuatan utamanya yaitu kolaborator sobat muda yang melahirkan masa kampus siap guna bagi lingkungan sekitar. Kolaborator sobat muda kemudian melahirkan kolaborator karya dan kolaborator transformasi. Kolaborator karya dalam hal ini sebagai motivator masyarakat yang  menyalurkan informasi mengenai teknologi yang telah dihasilkan mahasiswa ITS sedangkan kolaborator transformasi adalah rotor penggerak sebagai teladan moral demi terwujudnya kampus yang ideal. Demi mewujudkan mimpi besar ini, diperlukan infrastruktur-infrastruktur yang mendukung dan menguatkan program revolusi.

Dalu Nuzulul Kirom, Presbem 2010/2011, dalam menyampaikan Perjalanan Pergerakan Mahasiswa mengatakan bahwa pergerakan mahasiswa jaman sekarang memiliki tren yang berbeda dengan pergerakan mahasiswa saat orde lama, orde baru serta reformasi. Mahasiswa sekarang lebih  berorientasi pada popularitas dan kurang peka terhadap politik. Peran mahasiswa utamanya adalah berkontribusi dan popularitas hanyalah efek dari kontribusi seseorang terhadap sekitarnya.

Mengeksplor kementerian

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan kegiatan raker selama 2 hari pada tanggal 15-16 Januari. Raker sendiri merupakan penjabaran GBHK (Garis Besar Halauan Kerja ) dari DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa ) ITS dan arahan kerja dari presiden BEM ITS yang berupa program kerja beserta agenda dari 13 kementerian. Kabinet kolaborasi memiliki 3 kemenkoan dan 1 badan semi otonom yang terdiri dari kemenkoan luar negeri, kemenkoan kolaborator karya, kemenkoan komunikasi internal kampus, dan BSO IECC.

Setiap kemenkoan memiliki program kolaborasi berupa program kerja yang dilaksanakan bersama-sama semua kementerian dalam satu kemenkoan. Menko Luar Negeri, Intifada Fikri, memaparkan bahwa akan ada serangkaian acara yang dilaksanakan oleh kemenkoan luar negeri  dalam mengawal Asean Economic Community seperti Poseidon, Asean Talk, YESS Summit, dan Asean Camping Ground. Kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang lebih besar untuk Indonesia dan warga Asean dalam AEC 2015.

 Panggung kolaborasi

Kegiatan terakhir dari raker BEM ITS 2014/2015 adalah internalisasi selama 17-18 Januari di Pacet,Mojokerto. Hari pertama diisi dengan pemutaran video penugasan dan sharing bersama kabinet muda bersahabat BEM ITS 2013/2014. Video penugasan ini dibuat oleh setiap kelompok dengan anggota yang berbeda-beda kementeriannya. “Judul video ini adalah misi-misi kabinet Kolaborasi” jelas Imran Ibnu Fajri di akhir pemutaran. Malam harinya diisi dengan pertemuan bersama pengurus kabinet muda bersahabat yang diantaranya adalah Mukhlis Ndoyo Said, Maya Mafuzoh, Rangga Galih Perdana, Zainal Rasyid, dan Fahmi Hidayatullah. Pertemuan ini diharapkan menjadi semangat untuk kepengurusan baru periode ini dan diharapkan lebih baik dari periode-periode sebelumnya.

b

Hari terakhir internalisasi seusai solat subuh  para peserta berjalan menuju lapangan dan melakukan olahraga pagi. Setiap kemenkoan kemudian melakukan show-off di hadapan kemenkoan lain. Setiap kemenkoan ini menampilkan beragam hal diantaranya adalah BSO IECC dan BPH yang menampilkan drama musikal tentang percintaan kemudian kolaborator karya menampilkan drama dan akustik. Panggung kolaborasi ini menjadi awal dimulainya kolaborasi setiap kementerian dalam satu kemenkoan. Kegiatan ini diakhiri dengan balloon party membentuk tulisan Arek ITS Cak. “berakhirnya acara raker itu titik awal perjuangan kita” ujar Elika Tantri, dirjen Media Pewacanaan Kominfo. (ros/rhm)

 

Posted by adminbemits on

Aktualisasi Semangat TRITURA Masa Kini

Melisik butiran masa lalu, meyingkap guratan-guratan sejarah, mengkikis nurani untuk tak peka terhadap apa yang ada. Dalam kiasan rasa dan angan yang selalu bersama, tepat hari ini suatu sejarah terhadap bangsa ini telah tercipta. Di senin pagi yang luar biasa waktu itu, sejumlah mahasiswa bersuara, berteriak, dan berjuang atas nama rakyat. Tepat 49 tahun yang lalu peristiwa itu terjadi, Ya, bukan hanya omong kosong belaka, bukan hanya retorika yang menguap kemana saja, dan juga bukan teori revolusi penuh kiasan indah. Kata sederhana, muncul dalam pengharapan yang begitu dalam, menyuarakan hati yang tak mampu berbicara, mewakili jiwa yang tak mampu berbuat. 10 Januari 1966 mahasiswa bergerak atas nama rakyat, “TRITURA “ Tri Tuntutan Rakyat menggema dalam berbagai gerakan. Membawa 3 resolusi, Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI), Retooling Kabinet Dwikora, dan Penurunan Harga/Perbaikan Ekonomi.

Menusuri masa kini tak lagi zaman saling maki dan konfrontasi mencari pembenaran sejarah, sejenak menepi menghayati arti dalam semangat TRITURA itu sendiri. Terlepas dari masa lalu bangsa akan berita GESTAPU, G30S/PKI, dan pembantaiannya atau apapun. Mencoba memahami TRITURA pada masa kini, Pembubaran PKI masa itu dikorelasikan pada masa kini adalah memunculkan kembali semangat kebangsaan. Meninggikan kembali Pancasila sebagai falsafah bangsa. Ketika Pancasila dan nilai-nilainya kini mulai memudar, refleksi kembali pada semangat TRITURA mampu kita lakukan. Hampir 70 tahun bangsa ini merdeka, dan dibentuk serta dipejuangkan atas nilai-nilai Pancasila. Menjadi karakter dan ciri khas bangsa yang berketuhanan, beradab, bersatu, semangat permusyawarahan, dan berkeadilan. Ketika semua nilai itu kini mulai kabur tertindas akan egoisme pribadi maupun golongan. Ciri yang melekat sebagai identitas bangsa yang mulai luntur akan retorika zaman dan keegoisan anak bangsa nya. Tentu semangat Bung Karno akan konsep Trisakti harusnya mampu kita suarakan kembali. Mengilhami Pancasila sebagai sebuah karakter dan pribadi bangsa. Bagaimana sang Proklamator bangsa itu menandaskan teori Trisakti yang akan mengokohkan bangsa ini melalui kebudayaan yang berkepribadian.

Pribadi dan budaya apa? Pancasila mencerminkan itu semua, ciri khas bangsa yang hidup melalui gotong royong dan tepo seliro (mengerti keadaan orang lain) sudah selayaknya dinaikkan kembali. Menghadapi sistem perekonomian global yang semakin kejam hanya kepribadian dan persatuan bangsa yang mampu membuat suatu bangsa bertahan.

Menyikapi tentang retooling kabinet, pada dasarnya bukanlah mengutuk pemerintahan masa lalu. Semangat,  semangat yang harusnya kini merasuk dan menjelma pada diri mahasiswa. Semangat mengawal, semangat kritisasi pemerintah, dan terpenting adalah semangat memunculkan solusi nyata atas permasalahan bangsa. Hal hal itulah yang kini secara kasat mata mulai pudar. Ketika sistem kabinet yang terjadi hanya pemenuhan janji-janji politik dan distribusi jabatan saja, apakah tetap diam? Karena sesungguhnya kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat, ketika rakyat memberi kuasanya pada wakil rakyat, tapi diplintir salah artikan? Mahasiswa lah tangan kanan rakyat, oposisi paling bebas yang berhak melakukan apapun sesuai batas. “Nilai yang diwariskan oleh kemanusiaan hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. Humaniora memang indah bila diucapkan para mahaguru—indah pula didengar oleh mahasiswa berbakat dan toh menyebalkan bagi mahasiswa-mahasiswa bebal. Berbahagialah kalian, mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya” (Pramoedya Ananta Toer)

Hal yang bersinggungan antara TRITURA dan realita masa kini adalah tuntutan perbaikan ekonomi melalui penurunan harga. Ketika gonjang ganjing ekonomi kembali berlaga, ketika rupiah digoyang harga dirinya, ketika harga BBM mulai menjadi aktornya dan harga LPG jadi aktrisnya. Bukannya mengutuk masa lalu atau menggunjing masa kini, bagaimana pun dan apa pun yang diambil oleh pemerintah harus menuju keseahteraan rakyat pada akhirnya. Bukan kebijakan yang membungkam rakyat, menyayat hati rakyat, dan menindas tubuh-tubuh lemah para rakyat jelata ini. Cita-cita ekonomi berdikari yang diharapkan sang Proklamator tentu akan menjadi fana ketika semua tak bersumber pada jati diri dan ciri khas bangsa.

Setitik dua titik menghela, mengutuk masa lalu bukan jalan terbaik, menghasut masa kini bukanlah sebuah solusi. Semangat TRITURA yang harusnya kita rasukkan dalam jiwa. Semangat sadar akan sejarah bangsa yang menumbuhkan rasa cinta pada ibu pertiwi ini. Semangat kritisasi penguasa jika tak sesuai dengan tujuan bangsa. Semangat solutif atas segala permaslahan bangsa. Karena bangsa ini butuh solusi bukan hanya janji dan cacian maki. Tak ada kesejahteraan tanpa perjuangan. Bangsa ini dibangun atas tetes keringat dan cucur darah para pejuang bangsa ini. Mengukir sejarah dalam memori diri, menyingkapkan cerita perjalanan bangsa di tengah rumus-rumus mata kuliah bukan hal yang salah. Pada dasarnya nasionalisme bukan sebuah paksaan, melainkan sebuah keharusan, kasih sayang demi ibu pertiwi. Karena Indonesia ini bangsa kita, bukan bangsa mereka, karena Indonesia ini tanah air kita bukan tanah air mereka. Ya, ini Indonesia kita.

“Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya” (Pramoedya Ananta Toer)

Arizal Ariyanto

Staff Kementrian Kaderisasi Kebangsaan BEM ITS 2014/2015

10.01.2015

Semangat 49 tahun TRITURA

Posted by adminbemits on

Menko Maritim RI : Indonesia Poros Maritim Dunia

 IMG_20150105_102148

Yel-yel serempak mahasiswa ITS pada Senin pagi (5/01) memeriahkan penyambutan Dr. Ir. Indroyono Soesilo M.Sc, APU, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia. Para Mahasiswa ITS yang diwakili oleh BEM ITS membawa spanduk yang berisikan kata-kata penyemangat. Salah satunya bertuliskan “bapak tidak sendiri, kami siap bantu”. Begitulah para mahasiswa ITS meyakinkan beliau karena ITS adalah kampus maritim. ITS menjadi kampus pertama yang dikunjungi oleh Menko dari Kabinet Kerja Jokowi JK dan tepat setelah 1 bulan beliau meninggalkan Roma, sebagai Direktur FAO PBB untuk melakukan sosialisasi pembangunan maritim Indonesia. Pak Menko mengisi kuliah tamu yang bertempat di gedung Rektorat ITS lantai 1 yang diikuti oleh dosen dan beberapa mahasiswa ITS. Peserta sangat antusias, dilihat dari kursi sampai tidak cukup untuk menampung para peserta kuliah umum, bahkan kuliah tersebut sudah di relay dengan ruangan lain tetapi tetap saja ada yang tidak kebagian kursi.

BEM ITS selaku penggerak massa mahasiswa terbesar juga menyambut kedatangan beliau dengan penyerahan cenderamata berupa buku “Pertahanan Maritim Indonesia” oleh Presiden dan Menteri Energi dan Maritim BEM ITS. Sambutan yang luar biasa tidak hanya berasal dari mahasiswa ITS namun juga dari dosen serta Prof Dr Ir Triyogi Yuwono DEA, rektor ITS. Selain itu apresiasi juga diberikan bapak rektor terhadap keinisiatifan BEM ITS dalam penyambutan tamu istimewa ini. Jurnal Maritim yang mengacungi jempol atas kepemimpinan nasional berkaitan dengan pembangunan maritim Indonesia saat ini dalam sambutannya siang hari itu. ITS sendiri yang mempunyai Fakultas Teknologi Kelautan layak diberi apresiasi mendalam karena ikut andil dalam bidang kemajuan kelautan di Indonesia. Harapan besar ditujukan juga kepada semua fakultas di ITS agar ikut mendukung dan berperan dalam penelitian serta pendidikan kemaritiman Indonesia. 

ITS  dalam bidang kelautan sendiri memiliki sebuah tim bernama Poros Maritim ITS. Poros maritim ITS memiliki jargon yaitu “see the future, sea is the future. Banyak hal yang telah dilakukan Poros Maritim salah satunya adalah memonitoring kebijakan maritim Indonesia dan sebagai peran ITS dalam penguatan kedaulatan maritim dan beberapa proker-proker lain yang mendukung.

Kabinet Jokowi dalam kemenkoan maritim mempunyai visi besar yaitu mengembalikan Indonesia menjadi poros maritim dunia. Pada siang yang cerah itu bapak menko juga mengajak hadirin untuk bersama-sama merevitalisasi semangat bahari. “Indonesia sebagai poros maritim dunia harus dibangun dengan SDM yang handal, kreatif,  inovatif, iptek, wawasan budaya bahari yang kuat,” Kata beliau dengan semangat dalam mengisi kuliah umum siang itu. Beliau juga menuturkan empat agenda pembangunan maritim yang salah satunya adalah Pembangunan kedaulatan maritim salah satunya adalah proyek perbatasan Indonesia. “Indonesia harus punya kedaulatan perbatasan. Orang yang punya tanah saja bingung untuk mencari sertifikat tanah, masa bangsa kita yang mempunyai negara dengan laut luas ini juga tentu harus punya, agar tidak lagi kejadian kapal asing masuk perairan Indonesia karena tak tahu batas laut”. Tutur Pak Indoyono dengan semangat.  (ros/rah)

Posted by adminbemits on

AEC? Pede Aja!

Selasa (20/12) kemarin BEM ITS mengadakan Refleksi Akhir Tahun. Jangan berpikir acara tersebut membosankan, jawabannya tidak sama sekali. Refleksi akhir tahun bukan hanya merenung dan membayangkan kenangan selama setahun menjalani 2014, atau sesuatu mainstream seperti pembacaan resolusi. Acara ini membahas resolusi besar bangsa Indonesia tahun depan yaitu AEC atau Asean Economic Community yang kadang juga disebut MEA (Masyarakat Ekonomi Asean).  Acara yang diadakan oleh Kementrian Dalam Negeri BEM ITS ini diadakan di plasa dr. Angka, tempat berkumpulnya para mahasiswa ITS. Pembicara yang hadir sangat spesial, yaitu Ibu Maria Anityasari dan Calon Rektor ITS periode mendatang, yaitu Pak Joni, Pak Eko, Pak Herman, dan Pak Adi.

Bu Maria mengatakan bahwa kunci utama kita untuk mengahadapi AEC cuma satu. Yaitu Percaya diri. Tantangan yang ada sudah dicover oleh pemerintah untuk melindusngi warga negara indonesia, namun yang menghambat adalah ketidak percayaan diri masyarakat Indonesia sendiri. ITS sendiri belum mensupport kelas Bahasa Inggris berbeda dengan Malaysia, padahal jika benar-benar disupport dampaknya akan sangat besar untuk mahasiswa ITS, Bu Maria berharap tahun depan akan lebih  dimaksimalkan. Berada dalam naungan ITS merupakan hal yang sangat cukup dalam tantangan menghadapi AEC. Kita adalah laskar khusus yang harus membawa semangat bahwa bangsa ini telah maju. Pokoknya pertama-tama harus prcaya diri, lalu baru melaksanakan program-program.

Kita harus tau siapa kita, harus sama-sama bekerja keras, dan saling bersatu menyadarkan tantangan AEC. Kalau kita tidak siap, bisa jadi peluang kita akan diambil warga negara lain dan kita tidak bisa menolak karena itu adalah konsekuensi dari AFTA, kita bisa menolak jika dapat menunjukkan kita bisa lebih baik dari mereka dengan menunjukkan kualitas kita.

Bapak-bapak calon rektor mengatakan bahwa kita harus mendukung program berbahasa Inggris, terutama yang ada dilaboratorium di ITS. Ijazah mahasiswa harus memiliki kompetensi yang mendukung. Kemudian meninjau ulang mengapa mata kuliah bahasa inggris yang semula 3 sks menjadi 2 sks. Banyak program di ITS yang sudah mendukung ITS yaitu fastrack dan exchange. Tetapi mengapa belum bisa mencakup mahasiswa yang banyak? Karena ITS masih mengembangkan sistem sel. mengembangkan 5-10 orang dulu, nanti orang-orang tersebut yang akan mengembangkan 5-10 orang lain dan begitu seterusnya.  mahasiswa yang sudah bepengalaman mengajak temannya yang lain. Bahasa bukan hanya untuk berkomunikasi, tetapi berdiplomasi.

Fasiitas yang memadai juga ditekankan disini, kuantitas dan kualitas harus sejalan, dan benar-benar harus sustain. Bukan hanya dipakai tidak dirawat kemudian rusak. Mengajak untuk siap AEC bukan cuma mahasiswanya tetapi juga Dosen serta Karyawan. Alumni pun juga harus digerakkan. Dan jangan pernah melupakan Tuhan, karena yang menang nantiya adalah bangsa yang dekat dengan Tuhannya. (lin/rah)