Aktualisasi Semangat TRITURA Masa Kini

Melisik butiran masa lalu, meyingkap guratan-guratan sejarah, mengkikis nurani untuk tak peka terhadap apa yang ada. Dalam kiasan rasa dan angan yang selalu bersama, tepat hari ini suatu sejarah terhadap bangsa ini telah tercipta. Di senin pagi yang luar biasa waktu itu, sejumlah mahasiswa bersuara, berteriak, dan berjuang atas nama rakyat. Tepat 49 tahun yang lalu peristiwa itu terjadi, Ya, bukan hanya omong kosong belaka, bukan hanya retorika yang menguap kemana saja, dan juga bukan teori revolusi penuh kiasan indah. Kata sederhana, muncul dalam pengharapan yang begitu dalam, menyuarakan hati yang tak mampu berbicara, mewakili jiwa yang tak mampu berbuat. 10 Januari 1966 mahasiswa bergerak atas nama rakyat, “TRITURA “ Tri Tuntutan Rakyat menggema dalam berbagai gerakan. Membawa 3 resolusi, Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI), Retooling Kabinet Dwikora, dan Penurunan Harga/Perbaikan Ekonomi.

Menusuri masa kini tak lagi zaman saling maki dan konfrontasi mencari pembenaran sejarah, sejenak menepi menghayati arti dalam semangat TRITURA itu sendiri. Terlepas dari masa lalu bangsa akan berita GESTAPU, G30S/PKI, dan pembantaiannya atau apapun. Mencoba memahami TRITURA pada masa kini, Pembubaran PKI masa itu dikorelasikan pada masa kini adalah memunculkan kembali semangat kebangsaan. Meninggikan kembali Pancasila sebagai falsafah bangsa. Ketika Pancasila dan nilai-nilainya kini mulai memudar, refleksi kembali pada semangat TRITURA mampu kita lakukan. Hampir 70 tahun bangsa ini merdeka, dan dibentuk serta dipejuangkan atas nilai-nilai Pancasila. Menjadi karakter dan ciri khas bangsa yang berketuhanan, beradab, bersatu, semangat permusyawarahan, dan berkeadilan. Ketika semua nilai itu kini mulai kabur tertindas akan egoisme pribadi maupun golongan. Ciri yang melekat sebagai identitas bangsa yang mulai luntur akan retorika zaman dan keegoisan anak bangsa nya. Tentu semangat Bung Karno akan konsep Trisakti harusnya mampu kita suarakan kembali. Mengilhami Pancasila sebagai sebuah karakter dan pribadi bangsa. Bagaimana sang Proklamator bangsa itu menandaskan teori Trisakti yang akan mengokohkan bangsa ini melalui kebudayaan yang berkepribadian.

Pribadi dan budaya apa? Pancasila mencerminkan itu semua, ciri khas bangsa yang hidup melalui gotong royong dan tepo seliro (mengerti keadaan orang lain) sudah selayaknya dinaikkan kembali. Menghadapi sistem perekonomian global yang semakin kejam hanya kepribadian dan persatuan bangsa yang mampu membuat suatu bangsa bertahan.

Menyikapi tentang retooling kabinet, pada dasarnya bukanlah mengutuk pemerintahan masa lalu. Semangat,  semangat yang harusnya kini merasuk dan menjelma pada diri mahasiswa. Semangat mengawal, semangat kritisasi pemerintah, dan terpenting adalah semangat memunculkan solusi nyata atas permasalahan bangsa. Hal hal itulah yang kini secara kasat mata mulai pudar. Ketika sistem kabinet yang terjadi hanya pemenuhan janji-janji politik dan distribusi jabatan saja, apakah tetap diam? Karena sesungguhnya kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat, ketika rakyat memberi kuasanya pada wakil rakyat, tapi diplintir salah artikan? Mahasiswa lah tangan kanan rakyat, oposisi paling bebas yang berhak melakukan apapun sesuai batas. “Nilai yang diwariskan oleh kemanusiaan hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. Humaniora memang indah bila diucapkan para mahaguru—indah pula didengar oleh mahasiswa berbakat dan toh menyebalkan bagi mahasiswa-mahasiswa bebal. Berbahagialah kalian, mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya” (Pramoedya Ananta Toer)

Hal yang bersinggungan antara TRITURA dan realita masa kini adalah tuntutan perbaikan ekonomi melalui penurunan harga. Ketika gonjang ganjing ekonomi kembali berlaga, ketika rupiah digoyang harga dirinya, ketika harga BBM mulai menjadi aktornya dan harga LPG jadi aktrisnya. Bukannya mengutuk masa lalu atau menggunjing masa kini, bagaimana pun dan apa pun yang diambil oleh pemerintah harus menuju keseahteraan rakyat pada akhirnya. Bukan kebijakan yang membungkam rakyat, menyayat hati rakyat, dan menindas tubuh-tubuh lemah para rakyat jelata ini. Cita-cita ekonomi berdikari yang diharapkan sang Proklamator tentu akan menjadi fana ketika semua tak bersumber pada jati diri dan ciri khas bangsa.

Setitik dua titik menghela, mengutuk masa lalu bukan jalan terbaik, menghasut masa kini bukanlah sebuah solusi. Semangat TRITURA yang harusnya kita rasukkan dalam jiwa. Semangat sadar akan sejarah bangsa yang menumbuhkan rasa cinta pada ibu pertiwi ini. Semangat kritisasi penguasa jika tak sesuai dengan tujuan bangsa. Semangat solutif atas segala permaslahan bangsa. Karena bangsa ini butuh solusi bukan hanya janji dan cacian maki. Tak ada kesejahteraan tanpa perjuangan. Bangsa ini dibangun atas tetes keringat dan cucur darah para pejuang bangsa ini. Mengukir sejarah dalam memori diri, menyingkapkan cerita perjalanan bangsa di tengah rumus-rumus mata kuliah bukan hal yang salah. Pada dasarnya nasionalisme bukan sebuah paksaan, melainkan sebuah keharusan, kasih sayang demi ibu pertiwi. Karena Indonesia ini bangsa kita, bukan bangsa mereka, karena Indonesia ini tanah air kita bukan tanah air mereka. Ya, ini Indonesia kita.

“Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya” (Pramoedya Ananta Toer)

Arizal Ariyanto

Staff Kementrian Kaderisasi Kebangsaan BEM ITS 2014/2015

10.01.2015

Semangat 49 tahun TRITURA

Comment ( 1 )

  1. Reply#PenikmatKampus
    Semangat luar biasa saya rasakan dari insan muda penulis. Harusnya memang semangat itu ditularkan pada khalayak ramai. Karakter dasar bangsa haruslah kita junjung kembali untuk menikmati romansa hasil perjuangan kemerdekaan demokrasi. Saya sepakat, kita seyogyanya melihat tatanan masa depan dengan pertimbangan refleksi kehidupan masa kini. Tetap dijaga semangatnya, tetaplah berkobar untuk bangsa. Salam.