UKT Tidak Akan Naik Sampai Tahun 2019

“Buat apa menaikkan UKT, ITS masih bisa mencari dana tambahan luar dibanding menekan mahasiswa,” ungkap Joni mengawali diskusi silaturahim antara BEM ITS, Ruang Rektor, Rabu (11/1).

Joni menegaskan tidak akan menaikkan Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga tahun 2019. Hal itu dijelaskan Joni karena ITS berusaha menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang bisa mencerdaskan para pemuda bangsa tanpa membebani dengan kenaikan UKT.

Menurut dosen Departemen Teknik Lingkungan ini, ITS akan berusaha memenuhi kebutuhan operasional dengan cara menjalin kerjasama atau pendanaan secara mandiri.

Ditambahkan olehnya, jika terjadi perubahan pun mengikuti inflasi yang terjadi. Ia menganalogikan jika harga nasi padang tahun 2013 masih Rp 10 ribu, maka di tahun 2016 tentu harga nasi padang sudah tidak dapat dibeli dengan harga Rp 10 ribu. “Memang banyak yang bilang UKT ITS rendah, tapi jika tanpa menaikkan saja kita masih sanggup, kenapa harus naik?” ujar Joni.

Selaras dengan pergantian status ITS menjadi PTN Berbadan Hukum (PTN-BH), Joni menjelaskan BEM ITS sebagai Organisasi Mahasiswa (Ormawa) eksekutif tertinggi di ITS bisa turut membantu institut.
Bantuan yang dimaksudkan Joni antara lain adalah menjadi contoh mahasiswa yang cerdas dan mempunyai nilai etika baik di masyarakat.

“BEM ITS harus lebih banyak aktif di masyarakat, terutama pengabdian kepada masyarakat. Bantu ITS menjadi PTN-BH agar naik level, kita samakan niat agar tidak hanya mengejar kemuliaan duniawi semata tapi juga akhirat,” ujar dosen kelahiran Bandung ini.

Pengaderan ITS Selanjutnya

Berbicara mengenai menjadi contoh atau role model mahasiswa. Salah satu yang ia sebutkan adalah mengenai pengaderan, ia bercerita kerap kali mendapat kabar tidak sedap mengenai perilaku mahasiswa ITS yang kurang sopan di wilayah Gebang dan Keputih.

“Saya pernah dapat cerita, mahasiswa ITS kalau parkir suka sembarangan, menuhin jalan, ramai sendiri dan kurang aktif di kegiatan masyarakat seperti gotong royong,” cerita Joni.

Menanggapi cerita tersebut, Joni mengaitkan dengan pengaderan yang ada di ITS. Ia yakin pembangunan yang paling baik dimulai dari manusianya.

Pengaderan yang ada di ITS, ujar Joni, harus mencontohkan bukan hanya konsep menyuruh. Menurutnya konsep pengaderan bukan hanya untuk Mahasiswa baru (Maba), namun mahasiswa lama harus mengader dirinya sendiri. “Konsep ini yang hilang, malah banyaknya dijadikan ajang balas dendam senior ke junior,” tuturnya.

Ia tidak menampik, pengaderan turut mengembangkan softskill mahasiswa, namun perlu menyamakan niat dan meluruskan kembali makna pengaderan itu sendiri.

Mengenai nilai pengaderan yang ideal, Joni menyebutkan terdapat lima nilai yang perlu diberikan kepada mahasiswa. Kelima nilai tersebut, yaitu, kepemimpinan, kerja tim, kepercayaan diri, komunikasi dan kemampuan berwirausaha.

“Pengaderan tidak hanya berjalan di tahun pertama saja, tapi berlanjut sampai lulus. Seringlah bertanya salah saya apa, agar bisa introspeksi diri dan menjadi pribadi yang unggul,” tutup rektor yang akan meresmikan restrukturisasi fakultas 21 Januari mendatang.