adminbemits


Posted by adminbemits on

Sikap Keluarga Mahasiswa ITS Atas Kado Awal Tahun Presiden Joko Widodo

Awal tahun biasanya menjadi harapan baru untuk kehidupan kita satu tahun mendatang.

Awal tahun biasanya menjadi momentum untuk merefleksikan segala evaluasi selama satu tahun kebelakang.

Awal tahun biasanya menjadi wahana untuk kita mampu mengumpulkan semangat perjuangan.

Namun, rasanya awal tahun kali ini tidak seperti tahun-tahun belakangan. Kebijakan-kebijakan yang berdatangan, menjadi kado spesial yang harus kita terima di awal tahun ini. Mulai dari kenaikan harga BBM non subsidi dan kenaikan harga tarif dasar listrik 900VA.

Lalu? Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Sejujurnya, kami berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo beserta jajarannya atas kebijakan-kebijakan awal tahun yang telah ditetapkan. Dengan kebijakan-kebijakan bapak, kami berhasil mengumpulkan semangat JUANG lebih awal, kami berhasil membuat WAHANA untuk kawan-kawan kritis dengan kondisi kebangsaan, dan kami berhasil move on untuk BEREKSPRESI kedepan atas kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan.

Tidak ada yang kami perjuangkan selain untuk kebaikan masyarakat dan Indonesia. Anggaplah sikap ini bentuk ikhtiar kami untuk terus melaksanakan fungsi kontrol kepada pemerintah yang sedang mengemban amanah saat ini. Karena Bapak Soekarno pernah berkata, yaitu

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno)

Kami meyakini setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Maka hasil dari kajian serta penyikapan kami ini semoga bisa menjadi bukti atas kepedulian kami terhadap pemerintah saat ini.

WAHANA telah dibuka, silahkan siapkan diri karena kita akan memperJUANGkan ini bersama!

Link Hasil Kajian :
intip.in/sikapKMITSawaltahun

Presiden BEM ITS 2016/2017
Rofi Arga Hardiansyah
(0857 1544 1575)


*Hasil Penyikapan KM ITS ini akan langsung kami serahkan kepada lembaga terkait untuk diaspirasikan ke pemerintah pusat.

Posted by adminbemits on

BERANI UNDUR DIRI, PEJUANG SIAP BERAKSI

VIVAT PRESS

Plaza dr. Angka, 2 DESEMBER 2016

Kemeriahan, keharuan, kesedihan dan kebahagiaan bercampur aduk di Plaza dr. Angka tadi malam, (2/12). Tepat sekitar pukul 21.00, berakhirlah serangkaian acara Kongres Mahasiswa ITS Terbuka ke-XLIV. Terlihat Keluarga Mahasiswa (KM) ITS memenuhi setiap sudut Plaza dr. Angka.

Acara awal dimulai dengan pembacaan Kepres Pembubaran FKHM oleh Presiden BEM ITS 2015/2016, Novangga Ilmawan. Selanjutnya, dilakukan orasi terakhir dan pembuka BEM dan DPM ITS 2015/2016. Serta puncak dari acara ini yaitu serah terima jabatan BEM dan DPM ITS 2015/2016 kepada BEM dan DPM ITS 2016/2017.

“Saya merasa senang karena banyak teman-teman KM ITS yang datang. Ini menunjukkan awal yang baik untuk kepengurusan ini. Tapi saya juga ada rasa takut karena memegang amanah yang besar,” jelas Rofi Arga Hardiansyah, Presiden BEM ITS 2016/2017 setelah serah terima jabatan dilakukan.

Kepengurusan BEM ITS 2016/2017 ini akan lebih fokus terhadap peran fungsi yang optimal, baik internal maupun eksternal. Langkah selanjutnya setelah serah terima jabatan ini yaitu menunggu GBHK dari DPM ITS lalu segera launching Kabinet BEM ITS 2016/2017. Sedangkan untuk oprec staff, rencananya akan dibuka pada awal semester depan.

Novangga pun mengutarakan kebahagiaan dan kesedihannya selepas serah terima jabatan BEM dan DPM ITS 2015/2016 kepada BEM dan DPM ITS 2016/2017. Rasa senang karena sudah tidak mengemban amanah besar lagi dan rasa sedih karena kepengurusan BEM ITS 2015/2016 telah berakhir. Adapun pesan dan kesan selama satu tahun kepengurusan ini yakni memahami arti keikhlasan dan saling percaya dalam satu organisasi.

“Harapannya untuk kepengurusan BEM ITS yang akan datang yaitu dalam mengawali suatu kepengurusan harus jelas visi dan misi yang diusung, serta perlu adanya pencapaian-pencapaian yang harus diraih. Bukan hanya sekedar menjalankan saja”, pungkas Novangga pada akhir acara tersebut. (iid/yon)

Posted by adminbemits on

Challenge 2 Tahun Jokowi-JK : Ryan P. Putra

Jokowi: Kurang ‘Bertaji’ di Negara Sendiri?

Ryan P. Putra
Mahasiswa ITS Jurusan Fisika

Sumber Gambar: Google.

Apa jadinya jika presiden kurang ‘bertaji’ di negara yang ia pimpin? Tentu hal tersebut dapat menimbulkan pudarnya rasa kepercayaan bagi rakyat kepada presidennya. Hal itu dikarenakan presiden dipilih secara demokratis oleh rakyat. Apabila presiden kurang bahkan tidak berani untuk mengambil keputusan, maka rakyat akan kecewa dalam menghadapi itu.

Hal tersebut direfleksikan oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. Presiden yang akrab disapa Jokowi ini, menuai banyak pujian hingga hujatan yang berbagai macam semasa pemerintahannya dua tahun ini. Salah satu upayanya yang berani yakni Jokowi berani menindakpidanai para pengedar narkoba dengan hukuman mati. Meski hukuman mati dinilai melanggar hak asasi manusia untuk hidup, tetapi hal tersebut dilakukan dengan tujuan memberantas maraknya pengedaran narkoba yang membabi buta di negeri ini.

Pada awal Januari 2015, gelombang pertama eksekusi mati dijatuhi oleh salah satu pengedar narkoba asal Brasil, Marco Archer Cardoso (53 tahun). Tidak hanya Marco saja, tetapi masih banyak pengedar narkoba yang dihukum mati. Saking banyaknya pengedar narkoba yang masih mendekam di sel penjara, hukuman mati tersebut dilaksanakan hingga tiga gelombang. Pada gelombang ketiga, hukuman mati dijatuhkan oleh gembong narkoba terbesar di Indonesia asal Surabaya, Freddy Budiman pada jumat dini hari, 29 Juli lalu.

Keberanian Jokowi untuk mengeksekusi para pengedar narkoba dinilai cukup apik. Akan tetapi, keberanian tersebut hanya berdampak pada setiap individu atau orang saja. Mengapa? Pasalnya, narkoba hanya digunakan oleh mereka yang lemah iman. Jika setiap orang kokoh imannya, maka hasrat untuk memakai barang haram tersebut tidak mungkin dilakukan. Dengan kata lain, narkoba dapat menimbulkan efek buruk bagi pemakainya saja. Bukan seluruh rakyat Indonesia.

Lain halnya dengan korupsi. Fenomena tersebut sudah tidak asing didengar oleh seluruh rakyat Indonesia. Kurang tegasnya Jokowi dalam membangun negeri menjadi lebih baik bermula saat memberantas para koruptor. Berbeda dengan pengedaran narkoba, korupsi dapat merusak kesejahteraan rakyat Indonesia baik yang beriman kokoh maupun tidak. Pada dasarnya, uang yang dikorupsi oleh para koruptor merupakan uang dari rakyat. Bagaimana bangsa bisa maju jika para pejabat-pejabat tinggi melakukan hal yang dapat merusak itu?

Oleh karena itu, refleksi Jokowi di masa pemerintahannya selama dua tahun ini tidak dapat bertindak tegas dalam memberantas para koruptor. Jika pengedar narkoba yang dapat merusak satu orang saja dihukum mati, tentunya para koruptor yang merusak kesejahteraan rakyat juga bisa dihukum mati. Lantas, kapan Jokowi bisa memberantas para koruptor seperti saat memberantas pengedar narkoba?

Surabaya, 19 Oktober 2016

Posted by adminbemits on

Challenge 2 Tahun Jokowi-JK : Nanda Rizky

Rakyat Haus akan Realisasi

Bicara janji bicara realisasi

Bicara realisasi bicara aksi

2 tahun negeri ini di nakodai

Sekarang waktunya mulai mengoreksi

Diam bagi rakyat bukanlah suatu opsi

Namun diam bagi rakyat adalah tanda menyetujui

Bilamana janji belum terealisasi

Rakyat harus berani mengoreksi

Mungkin rakyat tidak begitu mengerti kondisi sejati negara ini

Mungkin hanya beliau lah yang sekarang jadi yang paling mengerti

Tapi rakyatlah objek dari suatu janji

Jadi rakyat berhak untuk mengkritisi

Nawa Cita sudahkah di maksimalisasi

Khususnya pada bidang energi

Berilah rakyat suatu dampak asli hasil realisasi

Bukan hanya berupa aksi gonta-ganti menteri

Rakyat perlu diberi aksi berarti

Rakyat perlu diberi bukti

Tunjukkan pada rakyat kehebatan negeri ini

Tunjukkan rakyat akan ketahanan energi sang ibu pertiwi

Posted by adminbemits on

Challenge 2 Tahun Jokowi-JK : Haekal Akbar

Mau Ketemu Kapan, Pak ?

Pak bagaimana kabarnya pak

Blusukan sana sini

Masuk kampung, keluar desa

Sudah dapat masalahnya pak?

Pak bagaimana kabarnya pak

Revolusi budaya, revolusi mental

Anak-anak jadi bingung kurikulumnya ganti melulu

Sudah dapat solusinya pak?

Pak, bagaimana kabarnya pak

Tol laut, pancur kali

Air susut, orang-orang masih susah mandi

Sudah dapat jalan keluarnya pak?

Pak bagaimana kabarnya pak

Jayabaya bertutur, bapak satrio pinandito

Jakarta ngelantur, masyarakat minta balik zaman soeharto

Sudah selesai masalahnya pak?

Pak bagaimana kabarnya pak

Nawacita, kabinet kerja

Istana tak tertata, semakin ga jelas siapa mentrinya

Sudah punya pasukannya pak?

Pak bagaimana kabarnya pak

Poros maritim dunia, buah pendulum nusantara

Tujuan bagus mau mendunia, eh pejabatnya malah masuk penjara

Sudah sembuh “penyakit”nya pak?

Pak bagaimana kabarnya pak

Jaga reog dan batiknya, supaya tak diambil tetangga sebelah

Anak Indonesia mulai lupa budayanya, presidennya sibuk dengar metalica

Sudah selesai pencitraannya pak?

Pak bagaimana kabarnya pak

Mahasiswa sudah lama tak jumpa bapak

Pemerintah sepertinya rindu akan suaranya

Mau ketemu kapan pak?

18 Oktober 2016

Surabaya

Posted by adminbemits on

Challenge 2 Tahun Jokowi-JK : Christopher Jonatan

Begerak Serempak Indonesia

“Demi Allah saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa”. Sumpah tersebut diucapkan Presiden Republik Indonesia ke 7 ketika dilantik pada tanggal 20 oktober 2014 di Istana negara. Sebuah harapan baru untuk pedagang asongan, buruh, kaum tertindas, dan gelandangan ditengah – tengah terpuruknya citra kaum penguasa karena korupsi dan berbagai penindasan lainnya. Dengan segala track record baik di setiap kepemimpinannya Jokowi diharapkan menjadi “juruselamat” yang mampu menebus segala dosa penguasa sebelumnya.

Untuk menjawab harapan tersebut, Jokowi merangkum dalam 9 program yang terangkum dalam nawacita dan fokusan yang dapat saya raba dalam pidato kenegaraan beliau ketika dilantik. “Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudra, dan memunggungi selat dan teluk. Ini saatnya kita mengembalikan semuanya sehingga ‘Jalesveva Jayamahe’, di laut justru kita jaya, sebagai semboyan kita di masa lalu bisa kembali.” Ya maritim. Maritim yang dalam kbbi berarti berkenaan dengan laut; berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut, dapat saya artikan sebagai sebuah pola kehidupan masyarakat nusantara lama yang mengedepankan laut sebagai sumber kehidupannya. Menilik sejarah, pola hidup maritim sudah dilakukan ketika zaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit tercatat sebagai kerajaan-kerajaan Nusantara yang pada zaman keemasannya menjadi adidaya karena karakter kemaritiman yang tertanam pada masyarakat. Tercatat beberapa kerajaan yang mencapai kedigdayaannya ketika menerapkan pola hidup maritim seperti Kerajaan Kutai (abad ke-4), Sriwijaya (tahun 600an-1000an), Majapahit (1293-1500), Ternate (1257-sekarang), Samudera Pasai (1267-1521), dan Demak (1475-1548).

Pola hidup maritim memang telah menjadi identitas dan karakter bangsa kita. Karakter tersebut hilang dengan sendirinya akibat kebijakan tanam paksa yang diterapkan oleh kaum imperalis kapitalis. Masyarakat nusantara dipaksa fokus pada sektor agraris dan melupakan maritim. Layaknya seorang pelukis yang dipaksa menjadi seorang ilmuwan, atau ilmuwan yang dipaksa menjadi seorang pelukis, begitulah bangsa ini ketika kehilangan jati dirinya. Dengan terucapnya kata maritim dari seorang pemimpin, menciptakan sebuah harapan baru akan kejayaan masa lalu tentang maritim.

Dua tahun sudah Presiden Joko Widodo beserta jajarannya bekerja untuk mewujudkan harapan ini. Harapan yang menjadi titik balik carut – marutnya kondisi negeri akibat ketidakseriusan penguasa dalam mengabdi. 2 tahun pemerintahan Jokowi diwarnai dengan buruknya komunikasi di jajaran birokrasi, pernyataan pejabat negara yang tidak sesuai kebijakan Jokowi, saling sikut sana – sini antar menteri, sampai penegakan hukum yang tumpul di kepala dan tajam di kaki. Di sektor maritim sendiri masih dapat kita lihat kehidupan nelayan yang tak berangsur membaik. Dengan visi poros maritim dunia yang didengungkan oleh Presiden Jokowi, seharusnya nelayan berada dalam kondisi yang jauh berbeda. Kondisi nelayan merupakan cermin bagaimana kebijakan pemerintah mengatur dan mengelola masyarakat pesisir. Data dari otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan rasio kredit macet (NPL) UMKM perikanan bergerak naik dari 3,77 pada Desember 2014 menjadi 5,18 pada Juli 2015. Data ini menunjukan sebuah masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya dari melaut, mengalami kesulitan dalam perekonomian sampai tak mampu lagi untuk melunasi hutang. Dari segi kesejahteraan pembudidaya ikan data menunjukan indeks kesejahteraan pembudidaya ikan sempat anjlok di bawah 100 tahun 2015. Ini berarti pembudidaya ikan mengalami defisit/penurunan daya belinya.

Di dalam tubuh birokrasi sendiri, terlihat jelas ketidakmampuan Jokowi dalam memanajemen bawahannya. Dengan diangkat-dicopot-diangkatnya kembali Archandra Tahar sebagai wakil menteri menjadi bukti ketidaktelitian Jokowi dalam menentukan pejabatnya. Archandra Tahar yang diisukan sudah berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Amerika, dilantik menjadi menteri ESDM sebelum akhirnya dicopot ketika dirinya belum genap satu bulan bekerja. Seolah menjadi sebuah dagelan politik ketika saya melihat kebijakan selanjutnya dari Presiden Jokowi dengan mengangkat kembali Archandra Tahar sebagai wakil menteri ESDM ketika dirinya terbukti seorang “Indonesia sejati” mendampingi Ignasius Jonan yang sebelumnya diberhentikan dari menteri perhubungan. Salah satu alasan yang dapat kita cerna dari terpilihnya pasangan ini tidak lepas dari track record yang baik dari Archandra Tahar dalam bidang energi dan ketegasan Ignasius Jonan jika tidak ingin mengatakan Presiden Jokowi tak ingin kehilangan wibawanya akibat ke”labil”an dalam mengangkat dan memberhentikan pejabat publik.

Mari kita beralih ke sisi timur Indonesia. Pulau yang sangat kaya dengan keindahan alam dan keragaman budayanya, kembali diusik oleh kepentingan – kepentingan yang mengatasnamakan “kebaikan bersama”. Presiden Jokowi beserta jajarannya berhasil untuk memperpanjang izin ekspor freeport dari 8 Agustus 2016 menjadi 11 Januari 2017. Ternyata masyarakat papua yang memberikan harapan besar kepada Jokowi, kurang cukup kuat untuk melawan kolonialisme parsial dari penjajah. Jokowi yang pada tahun 2014 menang telak di Papua, tidak mampu melawan hegemoni korporasi kaum kapitalis yang mengeruk kekayaan alam dari bumi Papua tanpa keadilan untuk rakyat papua. Rakyat papua yang tidak pernah menikmati kekayaan alamnya sendiri kembali harus menelan pil pahit untuk merdeka dari para penjajah. Data menunjukan indeks kekerasan menurut tipe konflik pada tahun 2014 dalam insiden kekerasan tipe konflik sumber daya, Papua memiliki intensitas tertinggi yakni dengan nilai acuan indeks intensitas kekerasan sejumlah angka 61 dengan korelasi kekerasan tipe konflik separatisme yang tertinggi yakni pada angka 42. Data ini didukung dengan meningkatnya gerakan separatis yang terjadi ketika isu – isu yang berkaitan tentang perpanjangan kontrak freeport menghangat kembali. Kondisi ini menimbulkan berbagai spekulasi tentang apa yang melatar belakangi setiap kekerasan dan gerakan separatis yang terjadi di papua. Keadaan ini semakin diperparah dengan perilaku “rasis” terhadap pemuda papua di beberapa daerah yang menginginkan papua merdeka. “NKRI harga mati” katanya. Namun, tak ada solusi dari setiap permasalahan di papua. Hanya pemuda papua yang diinjak – injak dan dianggap teroris ketika mereka memperjuangkan kehidupan saudara mereka.

2 tahun pemerintahan Jokowi-Jk belum memberikan peningkatan berarti jika tidak ingin dikatakan gagal. Meskipun terdapat beberapa peningkatan dari sisi ketahanan pangan, infrakstruktur, dan pelayanan kesehatan, namun hal tersebut belum cukup untuk menjawab harapan tinggi dari masyarakat. Masih banyak harapan – harapan dari kaum tertindas mengenai kesejahteraan. 2 tahun pemerintahan Jokowi – Jk masih diwarnai dengan Isu sara yang menjadi masalah tersendiri pada kehidupan horisontal bermasyarakat. Revolusi mental yang di gembar – gemborkan pun belum terlihat implementasi. 2 tahun pemerintahan pemerintahan Jokowi-Jk merupakan momentum untuk setiap elemen bangsa bermawas diri. 2 tahun Jokowi-Jk merupakan sebuah peringatan bahwa mewujudkan kesejahteraan bukan hanya tugas dari penguasa, tapi seluruh elemen bangsa.

Referensi:

1.http://nasional.kompas.com/read/2014/10/20/1318031/Ini.Pidato.Perdana.Jokowi.sebagai.Presiden.ke-7.RI

2.http://nasional.kompas.com/read/2014/05/21/0754454/.Nawa.Cita.9.Agenda.Prioritas.Jokowi-JK

3. http://www.voaindonesia.com/a/presiden-joko-widodo-resmi-dilantik/2489271.html

4. http://kbbi.web.id

5. http://maritimnews.com/berikut-catatan-tentang-kejayaan-maritim-kerajaan-nusantara/

6. http://koran-sindo.com/news.php?r=0&n=13&date=2016-04-04

7. http://koran-sindo.com/news.php?r=0&n=13&date=2016-04-04

8.https://nutroffish.wordpress.com/2011/06/25/ntpi-indikator-kesejahteraan-pembudidaya-ikan/

9.http://nasional.sindonews.com/read/1131476/12/menteri-esdm-arcandra-tahar-dicopot-1471271010

10. http://economy.okezone.com/read/2016/08/16/320/1464752/20-hari-menjabat-menteri-esdm-arcandra-tahar-sukses-perpanjang-izin-ekspor-freeport

11. https://www.selasar.com/politik/48-tahun-pt-freeport-mcmoran-dan-lingkaran-kekerasan-di-tanah-papua

12.http://nasional.kompas.com/read/2016/10/16/19545701/wasekjen.ppp.apresiasi.kinerja.dua.tahun.pemerintahan.jokowi-jk

13. http://www.sinonimkata.com/search.php

Christopher Jonatan
4214100121
Teknik Sistem Perkapalan

Posted by adminbemits on

BEM ITS: Kurangi Penggunaan Kertas Dengan Koran QR Code

Di tengah ramainya acara Pasar Malam Minggu ITS (PAMMITS), Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) BEM ITS mengadakan launching Mading QR Code pada Sabtu malam (3/10). Bertempat di sebelah utara Masjid Manarul Ilmi, launching yang dihadiri langsung oleh Menko Luar Negeri BEM ITS, Intifada Fikri tersebut menyedot perhatian pengunjung PAMMITS.

Mading QR Code merupakan sebuah media dari Kominfo BEM ITS sebagai sarana penyebaran informasi kepada KM ITS. Di dalam Mading QR Code terdapat QR Code yang berisi link menuju Koran VIVAT, koran paperless terobosan baru yang menghimpun tulisan- tulisan dari Ormawa se-KM ITS. Cara untuk mengaksesnya mudah hanya dengan melakukan scanning QR Code menggunakan fitur scanner yang ada dalam aplikasi IMAPS atau aplikasi scanner lainnya.

“Nantinya, Mading QR Code ini akan diletakkan di depan Perpustakaan ITS agar mudah dijangkau oleh seluruh lapisan KM ITS,” ujar Adnan Mauludin Fajriyadi, Plt Menteri Kominfo BEM ITS. (adn)

Posted by adminbemits on

Sadarkan tentang Kedaulatan Energi melalui Kajian UU Minerba

Kajian UU Minerba diselenggarakan pada Rabu (16/9) pukul 18.30 bertempat di Plasa Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri ITS. Kajian yang dihadiri oelh banyak massa baik dai dalam maupun luar ITS ini, bertujuan untuk mendiskusikan mengenai keberpihakan pemerintah.

Mahasiswa tidak selalu identik dengan aktivitas akademis. Salah satu peran fungsi mahasiswa adalah social control, di mana mahasiswa berperan sebagai pengontrol atas kebijakan-kebijakan yang berlaku di masyarakat. BEM ITS mencoba untuk terus memberikan sarana dalam mewujudkan salah satu peran fungsi mahasiswa tersebut. Kajian mengenai Undang-Undang (UU) Minerba yang diadakan oleh BEM ITS pada Rabu (16/09) mampu menyedot animo civitas akademika ITS di sela-sela kesibukan kampus.
Kajian yang bertempat di Plasa Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri ITS bertujuan untuk mendiskusikan mengenai kemana keberpihakan pemerintah. Selain itu, kajian ini sebagai bentuk pengawalan satu tahun pemerintahan Jokowi-JK yang dinilai oleh sebagian pihak cenderung menghasilkan rapor merah.
Pada kajian kali ini menghadirkan salah satu tokoh yaitu Dr. Sungging Pintowantoro yang merupakan pemilik dari mini smelter pertama yang ada di Indonesia. Ditengah kabar seputar kebakaran hutan di beberapa wilayah Pulau Sumatra dan Kalimantan, topik ini tetap menjadi bahasan yang menarik. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah peserta yang hadir dan antusias untuk mengikuti acara kajian ini.
Dr. Sungging mencoba memberikan pandangannya mengenai dampak UU Minerba terhadap industri tambang di Indonesia. Menurut beliau, UU Minerba memberikan dampak yang sangat menyakitkan, salah satunya dapat dilihat di Sulawesi. Beliau menerangkan, meskipun zaman IT, tentu masih perlu tambang dalam proses industrinya. “Sekarang musuh kita jauh lebih berat karena musuh kita adalah bangsa kita sendiri,” jelas beliau.

Ketika ditanya apakah Indonesia masih bisa berdaulat secara energi, Pak Sungging mengatakan bahwa Negara Indonesia masih bisa. “Kita harus punya semangat bonek. Kita bukan bangsa yang bodoh, tapi sudah ratusan tahun kita sudah dibodohi. Kita mampu, tentu disertai doa. Dengan doa yang tulus dan niat yang ikhlas dan keinginan yang kuat, insya Allah kita bisa berdaulat di bidang energi,” kata beliau.
Diskusi UU Minerba ini tidak hanya dalam sajian talkshow, tetapi diadakan juga sesi pertanyaan dari para audience yang menjadikan diskusi ini menjadi lebih hidup. Selain itu juga terdapat sesi jaring aspirasi yang memunculkan masukan atau pandangan-pandangan tertentu dari berbagai audience. (ham)

Posted by adminbemits on

ITS Students Participated in YL 2015

Go to international is not belong only for Indonesian actresses or actors. As university students, ‘go to international’ is important due to explore experiences, friends, and educations. Proudly, ITS students (again and again) got the chance to be the participants of Youth Lead (YL) 2015 in Bangkok, August 1-11,2015. They are Isbir Farhan (Environmental Engineering, 2013), Shatila Jihadiyah Fitri (Chemistry, 2012), and Onang Surya Nugroho (Electrical Engineering, 2012).

The YL 2015 has established as ASEAN Youth Exchange Program funded by Thailand Government,  and “Lingering the Enhancement of ASEAN Community 2015” has selected to be the theme. This was the 11 days program which participated by the delegates from ASEAN countries: Indonesia, Singapore, Thailand, Myanmar, Lao PDR, Cambodia, Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, and the Philippiness.

The program consist of the ICONAS (International Conference of ASEAN) 2 which had 23 panels with different topics, design thinking and change maker workshops, Traditional Ghost Performance, and other sessions related to ASEAN. This program also came in the right time because it held in the same day of ASEAN’s birthday in August, 8. To remember the historical day, the committee brought the participants to the building where the Bangkok Declaration 1967 signed by originally 5 members of ASEAN.

To getting more informations about YL 2015, here the interview with Isbir (I), Shatila (S), and Onang (O).

  • How was your feeling when the committee announced you as the participant of YL 2015?

O : I was so happy and proud to be the participant this year because I failed last year.

S : So exited to have another productive holidays and introducing Indonesian cultures to my friends in ASEAN.

I : I am so happy and proud because this is my first experience to be participant in international event. And I surprised knowing there’s many students who wanted to join this event.

  • What is the important message from the one of the YL speakers that you think very relevant for our country?

O : From Prof. Suthipand Chirativat, executive director of ASEAN Studies Center. He said that as young generations, we must care and concern to the issues of ASEAN, in political-security, socio-cultural, or economy.

S : “We don’t have to wait our future from the leaders’ meeting. You are the one who responsible for your own future.” Very remarkable speech from Prof. Surichai Wun’gaeo.

I : As I saw, Thailand is well-prepared for AEC 2015. I think, Indonesia should prepare more. Like getting know the language and knowledges about another countries of ASEAN. It is the relevant one, I think.

  • What will you do next after the program?

O : I will upgrade my quality and cares about the ASEAN’s issues. This program has edited my own character value to be more care about the diversity and unity of ASEAN.

S : I have my own missions to introduce the AEC for the society; strengthen the ASEAN’s value in my organisation: BEM ITS, with make another cooperation between 10 countries’ student organisations; and I will getting know each other with another participants to exchange our cultures even we are not together again, the friendship is last forever, isn’t it?

I : I’m going to share my knowledge to my friends and my society. And I will adopted some important things to the international event in ITS such as Yes Summit ITS.

  • Do you have any message for ITS Students?

O : Even our background is engineering, we are also need to know and understand ASEAN. In the end of December 2015, we shall be in the gate of the free trade. The complete package is when skilled labours have good quality about ASEAN. Last, don’t forget to join this program next year!

S : I suprised when I met a Thai delegate who can speak Bahasa fluently. He never lived in Indonesia, but he learned Bahasa. He said that it is important to economics students to learn Bahasa because Indonesia has the largest markets and high economics growth. That’s why, my friends, be proud to be an Indonesian youth with explore your skill more and more. Don’t just play game in your gadgets. Play your brain to be more skilled up in any positive things!

I : Don’t be afraid to try to be the participant of international events. Fears decreasing your dream to contribute for your campus and Indonesia. Your engineer’s persperctives are needed! (sha)