Category Archives

32 Articles

Posted by Vivat Press on

CERPEN : Sorban Kandang Kambing

(Adinda Aisya Zukhrufa – Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Gerakan ITS Menulis 2016)

Malam itu, kalaulah boleh dibilang, sejujurnya sangat indah. Cahaya bulan samar – samar menelisik di antara awan malam yang ingin pulang. Udara lembab sehabis gerimis sepanjang sore memenuhi seluruh beranda. Angin sedang menyapa rerumputan liar dan bercerita tentang apa yang dilakukannya seharian. Sementara di belakang rumah, tikus – tikus sedang beradu mulut berebut sisa makan siang. Anehnya seperti di dunia manusia, tikus betina-lah yang menang.

Namun, menang kalah tak menjadi masalah bagi Suryodi, yang kini dilanda dilema. Di dalam dadanya, tersangkut sebuah rahasia, misteri yang tengah happening di kampungnya, Mujut. Sedangkan di tangannya, dia memegang nasib seseorang yang jika tidak ia lepaskan, maka akan menjerat leher orang lain. Sungguh, waktu dan tempat benar – benar tidak berpihak pada Suryodi. Gurat – gurat resah tergambar jelas menghiasi wajahnya.

Semua kegelisahan Suryodi bermula pada suatu Sabtu, saat Mujut digemparkan oleh kasus kriminal yang sangat jarang terjadi, yaitu: pencurian kambing. Korban bernama Haji Makdud, sudah haji tiga kali dan sudah mendaftar haji untuk empat kali lagi. Punya toko sepatu, warnet, stand baju muslim untuk anak – anak di pasar dan sedang membangun bisnis laundry. Hobinya berganti – ganti, dari main badminton, main voli, main catur hingga yang terakhir, memelihara kambing. Sial oh sial, kambing kesayangannya kini tidak tahu dimana rimbanya.

Haji Makdud terpukul dan langsung melapor ke kelurahan. Ia tiba di kelurahan tepat jam tujuh nol nol. Dia tahu kambingnya dicuri pukul enam lima puluh delapan. Dia sama sekali tidak membuang waktu.
“Lapor! Kambing saya hilang, Pak Lurah!” seru Haji Makdud.
“Silakan duduk, Pak Haji! Coba ceritakan kronologinya!”
Awalnya Haji Makdud berapi – api menceritakan bagaimana ia tidak menemukan kambingnya –yang ternyata namanya Syuaeb- di dalam kandangnya. Namun, ujung – ujungnya dia malah menawarkan Pak Lurah untuk memakai jasa laundry-nya.
“Murah, Pak! Sekilo Cuma tiga ribu. Dijamin bersih, wangi!” kata Haji Makdud.

Pak Lurah berpikir keras. Bukan, dia sama sekali tidak memikirkan tawaran laundry Haji Makdud. Dia memikirkan bagaimana menemukan Syuaeb.
Tiba – tiba sebuah ide meluncur di kepalanya. Dipanggilnya Haq, keponakannya yang jago menggambar, sedang kuliah di Desain ITS. Seperti namanya, Haq = benar, Haq selalu benar dalam menggambar seseorang. Atau dalam kasus kriminal kali ini, seekor kambing.

“Coba Pak Haji sebutkan ciri – ciri fisik dari Syuaeb ini, Pak! Bentuk kepalanya, ukuran dahinya, panjang rahangnya, pola belangnya, semuanya.” Haq bersemangat.
“Dahinya lebar, seperti papan tulis.
Kepalanya lonjong, macam telur ayam.
Rahangnya bersih karena rajin gosok gigi.”
Haq dengan serius membuat sketsa wajah kambing sesuai ciri – ciri tadi. Dia memulai dengan satu lingkaran lalu lingkaran berikutnya, lalu mulai membentuk pola wajah.
“Seperti ini, Pak?”
“Emm, matanya agak kurang bulat sepertinya.”
Haq memperbaiki sketsanya.
“Kalau begini, Pak?”
“Emm, belangnya di sekitar telinga, bukan hidung. Di sebelah sini.”
Haq lagi – lagi memperbaiki sketsanya.
“Bagaimana dengan ini, Pak?”
Haji Makdud tertegun. Dipandanginya sketsa wajah Syuaeb yang digambar Haq. Begitu mirip, sempurna. Dahinya, belangnya, rahangnya. Membuatnya rindu pada kambingnya yang satu itu. Haji Makdud terisak dan akhirnya menangis tersedu.

***

Sungguh, dunia ini sebenarnya tidak dimiliki oleh orang – orang kaya, pejabat negara atau raja – raja sepanjang masa. Dunia sesungguhnya hanya dimiliki oleh dua orang: sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.
Kalau kau setuju artinya kau harus merelakan fakta bahwa sekarang dunia berada dalam genggaman Mulyoni dan kekasih barunya, Karmela. Mereka baru bertemu kemarin, langsung jatuh cinta, dan pacaran malam harinya. Mulyoni terhipnotis oleh mata Mela yang teduh, bagaikan sebuah rumah yang memintanya pulang. Sedangkan Mela terkagum oleh deretan gigi Mulyoni yang rapi tanpa kawat gigi, membuat senyumnya menawan macam bulan tinggal sepertiga.
Cinta memang aneh dan juga ajaib. Mulyoni memikirkan setiap kemungkinan bahwa sesungguhnya sangat tidak mungkin dia bisa bertemu Mela, namun rupanya kehidupan memilihkannya potongan nasib yang sangat indah itu. Memang benar, kalau bisa dibilang pertemuan Mulyoni dan Mela dihubungkan oleh kebetulan – kebetulan yang sebenarnya tidak ada hubungannya.

Jadi awalnya ada seorang gadis bernama Soleha berusaha mencarikan nasi goreng untuk ayahnya yang kelaparan. Mau dikata apa, warung nasi goreng langganannya tutup. Soleha lantas pergi ke kampung lain untuk mendapatkan nasi goreng, namun sayangnya begitu dia sudah membeli nasi goreng, dia baru ingat kalau ayahnya meminta dibelikan soto ayam. Tak putus asa, Soleha berputar menuju warung soto ayam di tengah kampung. Namun, perjalanannya dihentikan oleh lorong gelap yang dijaga seekor anjing, menanti untuk menakut – nakuti orang yang lewat. Tidak ada jalan lain.
Di tengah kebingungan itu, Soleha bertemu Mulyoni, teman SMA-nya. Dipanggilnya Mulyoni dan disuruhnya berjalan dulu di lorong gelap itu. Mulyoni berlagak seperti pahlawan, pahlawan yang takut anjing sepertinya, sebab detik berikutnya dia lari terbirit – birit dikejar anjing yang tiba – tiba muncul dari belakang. Mulyoni berusaha mencari perlindungan dan ia melihat sebuah rumah bercat hijau lebih dari cukup sebagai tempat bersembunyi. Seperti yang sudah kau tebak, rumah bercat hijau itu rumah Karmela.

Mulyoni membayangkan, kalau saja warung nasi goreng langganan Soleha buka, dia tidak akan bertemu Mela. Kalau saja Soleha tidak ingat kalau ayahnya pesan soto ayam, dia tidak akan bertemu Mela. Kalau saja dia tidak dikejar – kejar anjing, dia tidak akan bertemu Mela. Sungguh Kawan, kebetulan itu tidak ada. Ini benar – benar rancangan nasib dari yang Maha Kuasa.

***

Sudah seminggu lebih delapan jam lima puluh enam menit semenjak kasus pencurian kambing dan jangankan terdakwa, tersangka pun belum didapatkan. Sketsa wajah Syuaeb sudah disebar ke pelosok kampung Mujut, namun tidak ada seorang pun yang menemukannya. Ketidakpastian ini membuat desas – desus di antara warga. Hanya ada satu bukti kuat yang ditemukan di TKP, yaitu : sorban.

Kampung Mujut dengan segala keterbatasannya sayangnya tidak memiliki kantor polisi atau semacamnya, serta terlalu lugu untuk memecahkan teka – teki sorban pencuri yang tertinggal di kandang kambing. Bukan, itu bukan milik Haji Makdud. Haji Makdud tak suka pakai sorban.

Akhirnya tetua di sana memutuskan untuk membawa sorban kandang kambing ke orang yang paling pintar di Mujut, satu – satunya orang yang berhasil lulus sarjana, orang yang paling fasih bahasa inggrisnya, orang yang paling banyak punya buku sehingga bisa disebut perpustakaan kampung, tak lain dan tak bukan adalah Suryodi.

Suryodi sudah bisa menebak kalau tetua akan meminta bantuannya. Dia sendiri sudah bergerak dalam penyidikan kasus pencurian kambing itu sendirian. Dia telah mengumpulkan bukti, foto – foto di TKP dan menandai dimana saja pasar gelap untuk kambing curian. Ia menghubungkan gambar – gambar dengan benang, mencoret foto tersangka yang salah, menempelkan kliping – kliping koran, juga melakukan penyamaran. Bolehlah kota – kota besar punya banyak tim penyidik, tapi Suryodi seorang cukup sebagai Sherlock Holmes-nya Kampung Mujut.

Malang oh malang, mau dikata apa lagi, ternyata seluruh investigasi yang dilakukan Suryodi sia – sia, karena begitu ia melihat sorban kandang kambing tersebut, dia sudah bisa menebak siapa pelakunya, bahkan kalaulah disuruh menyebutkan nama seluruh keluarganya pun, dia sanggup.

“Tolong ya, Nak. Supaya Mujut tak tercoreng namanya.”
Suryodi tersenyum getir mendengar tetua yang memohon bantuannya. Di dalam dadanya, kini tersangkut sebuah rahasia, misteri yang tengah happening di kampungnya.

***

Malam harinya, Suryodi bergegas pergi ke rumah seseorang. Letaknya di Mujut sebelah utara, di samping warung kopi yang tak pernah sepi. Di depannya mengalir sungai jernih yang memantulkan cahaya bulan dengan sempurna. Airnya beriak – riak menyambut kedatangan Suryodi.

Waktu Suryodi tiba, ada Soleha, Mulyoni dan Karmela, sedang duduk di beranda rumah menikmati malam. Rupanya itu kencan ketujuh mereka (tentu saja Mulyoni dan Mela saja, Soleha tidak termasuk) dan Soleha menumbalkan diri sebagai obat nyamuk bagi kedua temannya. Entah bagaimana, Soleha ikhlas.

“Leha, bapak kamu ada?” tanya Suryodi.
Soleha mengangguk dan menyuruh Suryodi langsung masuk.
Suryodi mengecek kanan – kiri, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Bahkan dia mengecek sofa, barangkali ada alat penyadap ditaruh di sana.
Haji Rois, ayah Soleha, menemui Suryodi dengan perasaan setengah menebak tentang maksud kedatangan Suryodi ke rumahnya.
“Bukan, bukan aku pelakunya.” Seru Haji Rois. Bahkan Suryodi belum mengatakan sepatah kata pun.
“Bukan, bukan aku pelakunya.” Seru Haji Rois. Bahkan Suryodi hanya mengatakan selamat malam.

Perdebatan malam itu, antara Suryodi dan Haji Rois, berlangsung cukup alot. Haji Rois terus – terusan menyangkal bahwa ia bukan pelakunya setiap lima kata yang diucapkan Suryodi. Hal itu tidak berhenti sampai pada akhirnya Suryodi menunjukkan bukti pemungkasnya, sorban kandang kambing. Haji Rois langsung kehabisan suara.

“Ini sorban yang aku berikan, bukan, Pak Haji?”
Kebisuan Haji Rois justru menjawab semua pertanyaan.
“Aku sudah tahu sebenarnya. Tapi, sebagai kepala tim sukses Pak Haji tiga bulan lagi, aku tak bisa serta merta memberitahu publik bahwa Pak Haji ini pelakunya. Mana ada calon camat yang mencuri kambing! Lagipula, buat apa Pak Haji ini mencuri kambing?!” seru Suryodi.
“Aku bermimpi kalau kambing si Makdud bikin aku gagal jadi camat, makanya ku curi saja supaya nggak lagi jadi punya Makdud.”
Suryodi memutar bola matanya.
“Sekarang siapa yang harus disalahkan untuk kasus ini….” Suryodi bingung.

Sebagai tim sukses, dia harus memikirkan cara untuk membuat nama baik kliennya tidak tercemar. Barulah di tengah – tengah kebingungannya, Suryodi menyadari bahwa di sana, di depan pintu ruang tamu, berdiri seorang Mulyoni, terpaku mendengarkan setiap kata yang ia dengar.
Kalaulah cerita ini dijadikan film, pasti saat ini merupakan adegan dimana suasana hening dengan setiap tokohnya saling memandangi satu sama lain.

Tanpa banyak bicara, Mulyoni beranjak dan pergi menuju ke mushola. Dengan langkah cepat ia berusaha untuk mengungkapkan kebenaran. Corong mushola merupakan satu – satunya alat yang efektif untuk memberitahu seluruh kampung dalam satu kali bicara. Suryodi dan Haji Rois pun mengejar Mulyoni, mencegah segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Namun apalah daya, Mulyoni yang telah berpengalaman dikejar anjing, sudah sampai disana dan berdiri di depan corong bak jendral polisi mengungkapkan kebenaran.

Suara corong menguik ketika dihidupkan. Suryodi dan Haji Rois lemas.
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh. Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh.
“ Diberitahukan kepada seluruh warga Mujut, dari yang balita sampai yang sudah jadi buyut, bahwa saya, Mulyoni bin Rofiqi, mengakui bahwa saya otak tunggal dari pencurian kambing Haji Makdud tempo hari. Sekali lagi, saya Mulyoni bin Rofiqi, mengakui bahwa saya otak tunggal dari pencurian kambing Haji Makdud tempo hari. Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan hubungi saya sendiri. Terima kasih. Wassalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh.”
Seluruh kampung terkejut, Suryodi dan Haji Rois menjerit. Apa yang dilakukan Mulyoni?!

Meski begitu, bagi Mulyoni dia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah membalas budi kebaikan Haji Rois. Mulyoni membayangkan, kalau saja Haji Rois tidak kelaparan malam itu, dia tidak akan bertemu Mela. Kalau saja Haji Rois memesan nasi goreng saja dan tidak pernah memesan soto ayam, dia tidak akan bertemu Mela. Sungguh, cinta memang aneh dan juga ajaib.

***

Namun rupanya, pengakuan mengejutkan Mulyoni sama sekali tidak membantu Suryodi. Suryodi kini dilanda dilema. Di dalam dadanya, tersangkut sebuah rahasia, misteri yang tengah happening di Kampung Mujut. Sedangkan di tangannya, dia memegang nasib seseorang yang jika tidak ia lepaskan, maka akan menjerat leher orang lain.

Berhari – hari Suryodi termenung memikirkan apa yang sebaiknya dilakukannya. Membebaskan Mulyoni atau Haji Rois? Apalagi pemilihan camat tinggal beberapa minggu saja dan kini tersiar kabar bahwa Mulyoni akan diusir dari kampung karena perbuatannya. Untung saja Mela tetap setia pada Mulyoni.

Perasaan takut menghantui Suryodi, membuncah – buncah di setiap menitnya. Ia sungguh ingin sekali membela Mulyoni, tapi dia merasa tidak cukup berani.
Baru saja Suryodi hendak mengambil kopi, ia mendengar gemuruh yang asalnya dari ujung jalan. Rupa – rupanya itu adalah gerombolan warga dengan obor di tangan kanan dan tongkat di tangan kiri. Mereka beramai – ramai menuju rumah yang sama, rumah Mulyoni.
Suryodi tak jadi mengambil kopi. Disabetnya sandal dan ia langsung lari terhuyung – huyung mengikuti warga yang lain.
“Keluarkan Mulyoni dari kampung!”
“Ya!”
“Keluarkan pencuri dari kampung!”
“Ya!”

Mulyoni berdiri di beranda rumahnya, tangan kanannya membawa sebuah tas jinjing besar, namun itu tidak seberapa dibanding tas punggungnya, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat tangan Mela kekasihnya. Mendengar namanya diseru – serukan oleh seisi kampung tidak membuatnya kecewa, malahan dia tersenyum, merasa seperti atlit bulutangkis memenangkan medali.

Suryodi berada di barisan paling belakang, tertelan oleh punggung – punggung yang menjulang. Melihat Mulyoni dihimpit oleh tas – tas besarnya, sungguh mengiris nuraninya. Lantas ia mengumpulkan segala jenis keberanian yang tercecer di raganya. Tidak, dia bukannya tidak merasa takut. Berani memang tidak pernah tentang tidak merasa takut, berani adalah tentang melakukan sesuatu meskipun takut.

Detik berikutnya, Suryodi sudah berada di depan, membatasi Mulyoni dengan warga yang tengah muntab.
Suryodi mengatur suara.
“Oke, Bapak – Bapak, Ibu – Ibu, Saudara – Saudara, saya di sini hendak mengungkapkan kebenaran yang sebenar – benarnya. Saya sebagai seseorang yang diamanahi memecahkan misteri pencurian kambing Haji Makdud, ingin mengatakan bahwasanya……”
“Saya, Haji Rois, calon camat nomor urut dua, merupakan pelaku sebenarnya. Saudara Mulyoni bebas dari segala tuduhan.”
Haji Rois mengagetkan seluruh badan yang ada di sana. Suryodi terbengong, dan Mulyoni masih saja tersenyum.

Suryodi langsung menyeruak dalam keheningan dan menjelaskan segala hal yang terjadi dari a sampai z. Warga Mujut yang ada di sana saling ber’ohh’ satu sama lain. Namun rupanya senyap hanya terjadi sesaat. Begitu seluruh warga paham apa yang tengah terjadi, perhatian mereka tertuju pada si pencuri kambing sesungguhnya, Haji Rois.
“Usir Haji Rois!”
“Ya!”
Lantas seluruh warga Mujut berbaris mengiringi kepergian Haji Rois yang rupanya sudah bersiap – siap bersama Soleha. Suryodi yang penasaran bergerak menyelipkan diri ke samping Haji Rois.
“Buat apa Pak Haji ini tiba – tiba mengaku?” tanya Suryodi.
“Aku bermimpi kalau aku mengakui kalau aku yang mencuri kambing si Makdud dan diusir dari kampung, aku akan jadi camat di kampung sebelah!”
Suryodi memutar bola matanya.

Posted by Vivat Press on

REKTOR ITS PIMPIN PELEPASAN KONTINGEN ITS KE PIMNAS

VIVAT PRESS

Rektorat ITS, 30 Juli 2016

Sabtu(30/07) lalu telah diselenggarakan acara pelepasan seluruh kontingen ITS untuk menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke 29 yang diselenggarakan di Bogor. Acara yang bertempat di Gedung Rektorat ITS tersebut dipimpin langsung oleh Rektor ITS, Prof. Joni Hermana.

Dari 271 proposal yang didanai, 15 tim diantaranya resmi dinyatakan lolos ke tahapan selanjutnya yakni PIMNAS. Sebelum berangkat menuju ke Bogor, 15 tim pkm 5 bidang tersebut terlebih dahulu akan menjalani berbagai proses pembinaan yang akan dilaksanakan di Tretes mulai tanggal 29-30 Juli serta tanggal 1-4 agustus di Sekretariat ITK Gedung KPA Lt. 3 ITS Surabaya. Selain itu, 15 tim tersebut juga akan berangkat lebih awal dari jadwal yang ditentukan, yakni tanggal 5 Agustus untuk menjalani proses pemantapan di Bogor.

Dalam sambutannya saat melepas kontingen PIMNAS, Prof Joni Hermana berpesan bahwa jumlah kontingen yang sedikit tidak menjadi masalah, akan tetapi hal tersebut justru menjadi tantangan untuk bekerja lebih keras dan mendapatkan hasil yang terbaik. Beliau juga menambahkan, jika dari awal yakin untuk menang, maka akan ada 2 opsi yang didapat yakni menang dan kalah, sebaliknya jika dari awal sudah pesimis maka hasil akhir yang akan didapat hanya ada satu yaitu kekalahan.

Perhelatan PIMNAS sendiri akan dilaksanakan di Bogor mulai tanggal 7-12 Agustus dan akan diikuti oleh 440 peserta dari total lebih dari 150 perguruan tinggi yang ikut serta. Selain perhelatan PIMNAS, tuan rumah IPB juga akan mengadakan kegiatan lain yakni pertemuan BEM, aksi sosial dan study tour pasca pengumuman PIMNAS.

Sementara itu, ditemui di tempat terpisah Menteri Riset dan Teknologi BEM ITS 15/16, Hoppy Adi Putra menyatakan bahwa terlalu dini untuk menentukan siapa yang juara, karena kompetisi belum dimulai. Siapapun berhak dan pantas jadi pemenangnya. Sejarah juga mencatat bahwa pertempuran tidak selalu dimenangkan oleh jumlah akan tetapi kualitas oleh tiap individunya. Keyakinan dan berusaha sebaik mungkin itu yang utama.(rtk/ham/akh/mia).

Posted by kominfo on

Maritime Essay Competition

BEM Fakultas Teknologi Kelautan Present:
“MARITIME ESSAY COMPETITION”
Dalam rangka mamperingati Hari Maritim Nasional (20 Agustus)

Persyaratan:
1. Like fanspage BEM Fakultas Teknologi Kelautan ITS (http://www.facebook.com/BEMFTKITS) di Facebook
2. Download Formulir pendaftaran di http://www.bem.ftk.its.ac.id/
3. Membuat esai dengan tema “Peran Nyata Pemuda dalam Kemaritiman Indonesia”
4. Esai merupakan karya individu, bukan karya kelompok
5. Esai belum pernah dilombakan ataupun dimuat di media cetak maupun media elektronik dan bukan merupakan hasil dari copy atau plagiat
6. Esai ditulis dalam Bahasa Indonesia
7. Esai memuat permasalahan, analis dan solusi vertikal (saran kebijakan) dan langkah konkret yang harus dilakukan secara individu
8. Jumlah kata adalah 500 – 1.500 kata
9. Huruf menggunakan Times New Roman 12 pt, line spasi 1.5, margin (2, 2, 2, 2) cm dan ukuran kertas A4
1. Esai dan formulir yang sudah diisi dikirim dalam bentuk .pdf dalam satu folder.rar ke email bemftk@gmail.com dengan identitas (Nama_NRP/NIM_Jurusan_Universitas)

Contact person: Dhimas (081515477755), Eva (089678318406)
More Info: bem.ftk.its.ac.id – @BEMFTK_ITS

Posted by adminbemits on

KM ITS Peduli Aceh

#KMITSPEDULIACEH
Turut berduka cita atas bencana gempa bumi berkekuatan 6,2 skala Richter yang terjadi di Aceh 2/07/2013. 45 orang meninggal dunia, 12 orang hilang, 450 orang luka-luka, 4.292 rumah rusak dan 83 bangunan fasilitas umum rusak. Data sementara, jumlah pengungsi mencapai 16.000 jiwa

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air Indonesia
Mari ulurkan tangan kalian dengan memberikan bantuan kepada korban gempa di Aceh. Bantuan apapun sangat berarti bagi mereka. Bantuan dapat berupa : donasi uang, bahan makanan, selimut, pakaian layak pakai dll

Bantuan dapat dikumpulkan di
Sekretariat BEM,ITS M WEB lantai 2
atau donasi berupa uang melalui
Mandiri 156-00-0550098-0
a.n I Gde Agung Chandra

Paling lambat Jumat 11 Juli 2013 Pukul 09.00

Contact Person :
Rezha 0857 118 519 97
Iga 0856 975 051 06

Posted by kominfo on

PLAY :3 Grow Up And Play!

PLAY :3 Grow Up And Play!

Pameran Desain Sarana Bermain Anak

 

Pameran tugas besar matakuliah Desain Produk II dari Jurusan Desain Produk Industri ITS, prodi Produk.

Waktu pelaksanaan     : 22-23 Juni 2013

Pukul                           : 10.00 – 22.00 WIB

Tempat                        : Lantai Ground,East Coast Center Surabaya

Isi Acara                      :

–          Pameran karya

–          Lomba menggambar anak gratis

–          Penampilan akustik

–          Talkshow dengan pakar psikologi anak tentang perkembangan anak

–          Awarding night

 

Contact person

Shabrina Nur ‘Adliah (08386243536)

 

Datang aja ke :
East Coast Center Surabaya, lantai ground

 

Facebook Event          : PAMERAN PLAY 3 GROW UP AND PLAY!

Twitter                                    : @play3exhibition

Posted by kominfo on

Techno Ideas Essay Competition

Techno Ideas Essay Competition merupakan kompetisi essay tingkat nasional yang diadakan oleh HIMA D3KKIM ITS untuk mahasiswa dengan tema pangan, energi & limbah.

Kompetisi Essay ini ditujukan untuk semua Mahasiswa, khususnya yg suka menulis essay berbasis teknologi

Free Registration.
Pendaftaran dibuka hingga 11 Mei 2013.

Hadiah:
Juara 1 =700K + sertifikat
Juara 2 =400K + sertifikat
Juara 3 =300K + sertifkat.

Info lebih lanjut mengenai Techno Ideas Competition:
www.himadekkim-its.com
@TIE_2013
FB: TIECompetition
cp 085731126867/085721137978