Posted by adminbemits on

Challenge 2 Tahun Jokowi-JK : Nanda Rizky

Rakyat Haus akan Realisasi

Bicara janji bicara realisasi

Bicara realisasi bicara aksi

2 tahun negeri ini di nakodai

Sekarang waktunya mulai mengoreksi

Diam bagi rakyat bukanlah suatu opsi

Namun diam bagi rakyat adalah tanda menyetujui

Bilamana janji belum terealisasi

Rakyat harus berani mengoreksi

Mungkin rakyat tidak begitu mengerti kondisi sejati negara ini

Mungkin hanya beliau lah yang sekarang jadi yang paling mengerti

Tapi rakyatlah objek dari suatu janji

Jadi rakyat berhak untuk mengkritisi

Nawa Cita sudahkah di maksimalisasi

Khususnya pada bidang energi

Berilah rakyat suatu dampak asli hasil realisasi

Bukan hanya berupa aksi gonta-ganti menteri

Rakyat perlu diberi aksi berarti

Rakyat perlu diberi bukti

Tunjukkan pada rakyat kehebatan negeri ini

Tunjukkan rakyat akan ketahanan energi sang ibu pertiwi

Posted by adminbemits on

Challenge 2 Tahun Jokowi-JK : Haekal Akbar

Mau Ketemu Kapan, Pak ?

Pak bagaimana kabarnya pak

Blusukan sana sini

Masuk kampung, keluar desa

Sudah dapat masalahnya pak?

Pak bagaimana kabarnya pak

Revolusi budaya, revolusi mental

Anak-anak jadi bingung kurikulumnya ganti melulu

Sudah dapat solusinya pak?

Pak, bagaimana kabarnya pak

Tol laut, pancur kali

Air susut, orang-orang masih susah mandi

Sudah dapat jalan keluarnya pak?

Pak bagaimana kabarnya pak

Jayabaya bertutur, bapak satrio pinandito

Jakarta ngelantur, masyarakat minta balik zaman soeharto

Sudah selesai masalahnya pak?

Pak bagaimana kabarnya pak

Nawacita, kabinet kerja

Istana tak tertata, semakin ga jelas siapa mentrinya

Sudah punya pasukannya pak?

Pak bagaimana kabarnya pak

Poros maritim dunia, buah pendulum nusantara

Tujuan bagus mau mendunia, eh pejabatnya malah masuk penjara

Sudah sembuh “penyakit”nya pak?

Pak bagaimana kabarnya pak

Jaga reog dan batiknya, supaya tak diambil tetangga sebelah

Anak Indonesia mulai lupa budayanya, presidennya sibuk dengar metalica

Sudah selesai pencitraannya pak?

Pak bagaimana kabarnya pak

Mahasiswa sudah lama tak jumpa bapak

Pemerintah sepertinya rindu akan suaranya

Mau ketemu kapan pak?

18 Oktober 2016

Surabaya

Posted by adminbemits on

Challenge 2 Tahun Jokowi-JK : Christopher Jonatan

Begerak Serempak Indonesia

“Demi Allah saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa”. Sumpah tersebut diucapkan Presiden Republik Indonesia ke 7 ketika dilantik pada tanggal 20 oktober 2014 di Istana negara. Sebuah harapan baru untuk pedagang asongan, buruh, kaum tertindas, dan gelandangan ditengah – tengah terpuruknya citra kaum penguasa karena korupsi dan berbagai penindasan lainnya. Dengan segala track record baik di setiap kepemimpinannya Jokowi diharapkan menjadi “juruselamat” yang mampu menebus segala dosa penguasa sebelumnya.

Untuk menjawab harapan tersebut, Jokowi merangkum dalam 9 program yang terangkum dalam nawacita dan fokusan yang dapat saya raba dalam pidato kenegaraan beliau ketika dilantik. “Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudra, dan memunggungi selat dan teluk. Ini saatnya kita mengembalikan semuanya sehingga ‘Jalesveva Jayamahe’, di laut justru kita jaya, sebagai semboyan kita di masa lalu bisa kembali.” Ya maritim. Maritim yang dalam kbbi berarti berkenaan dengan laut; berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut, dapat saya artikan sebagai sebuah pola kehidupan masyarakat nusantara lama yang mengedepankan laut sebagai sumber kehidupannya. Menilik sejarah, pola hidup maritim sudah dilakukan ketika zaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit tercatat sebagai kerajaan-kerajaan Nusantara yang pada zaman keemasannya menjadi adidaya karena karakter kemaritiman yang tertanam pada masyarakat. Tercatat beberapa kerajaan yang mencapai kedigdayaannya ketika menerapkan pola hidup maritim seperti Kerajaan Kutai (abad ke-4), Sriwijaya (tahun 600an-1000an), Majapahit (1293-1500), Ternate (1257-sekarang), Samudera Pasai (1267-1521), dan Demak (1475-1548).

Pola hidup maritim memang telah menjadi identitas dan karakter bangsa kita. Karakter tersebut hilang dengan sendirinya akibat kebijakan tanam paksa yang diterapkan oleh kaum imperalis kapitalis. Masyarakat nusantara dipaksa fokus pada sektor agraris dan melupakan maritim. Layaknya seorang pelukis yang dipaksa menjadi seorang ilmuwan, atau ilmuwan yang dipaksa menjadi seorang pelukis, begitulah bangsa ini ketika kehilangan jati dirinya. Dengan terucapnya kata maritim dari seorang pemimpin, menciptakan sebuah harapan baru akan kejayaan masa lalu tentang maritim.

Dua tahun sudah Presiden Joko Widodo beserta jajarannya bekerja untuk mewujudkan harapan ini. Harapan yang menjadi titik balik carut – marutnya kondisi negeri akibat ketidakseriusan penguasa dalam mengabdi. 2 tahun pemerintahan Jokowi diwarnai dengan buruknya komunikasi di jajaran birokrasi, pernyataan pejabat negara yang tidak sesuai kebijakan Jokowi, saling sikut sana – sini antar menteri, sampai penegakan hukum yang tumpul di kepala dan tajam di kaki. Di sektor maritim sendiri masih dapat kita lihat kehidupan nelayan yang tak berangsur membaik. Dengan visi poros maritim dunia yang didengungkan oleh Presiden Jokowi, seharusnya nelayan berada dalam kondisi yang jauh berbeda. Kondisi nelayan merupakan cermin bagaimana kebijakan pemerintah mengatur dan mengelola masyarakat pesisir. Data dari otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan rasio kredit macet (NPL) UMKM perikanan bergerak naik dari 3,77 pada Desember 2014 menjadi 5,18 pada Juli 2015. Data ini menunjukan sebuah masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya dari melaut, mengalami kesulitan dalam perekonomian sampai tak mampu lagi untuk melunasi hutang. Dari segi kesejahteraan pembudidaya ikan data menunjukan indeks kesejahteraan pembudidaya ikan sempat anjlok di bawah 100 tahun 2015. Ini berarti pembudidaya ikan mengalami defisit/penurunan daya belinya.

Di dalam tubuh birokrasi sendiri, terlihat jelas ketidakmampuan Jokowi dalam memanajemen bawahannya. Dengan diangkat-dicopot-diangkatnya kembali Archandra Tahar sebagai wakil menteri menjadi bukti ketidaktelitian Jokowi dalam menentukan pejabatnya. Archandra Tahar yang diisukan sudah berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Amerika, dilantik menjadi menteri ESDM sebelum akhirnya dicopot ketika dirinya belum genap satu bulan bekerja. Seolah menjadi sebuah dagelan politik ketika saya melihat kebijakan selanjutnya dari Presiden Jokowi dengan mengangkat kembali Archandra Tahar sebagai wakil menteri ESDM ketika dirinya terbukti seorang “Indonesia sejati” mendampingi Ignasius Jonan yang sebelumnya diberhentikan dari menteri perhubungan. Salah satu alasan yang dapat kita cerna dari terpilihnya pasangan ini tidak lepas dari track record yang baik dari Archandra Tahar dalam bidang energi dan ketegasan Ignasius Jonan jika tidak ingin mengatakan Presiden Jokowi tak ingin kehilangan wibawanya akibat ke”labil”an dalam mengangkat dan memberhentikan pejabat publik.

Mari kita beralih ke sisi timur Indonesia. Pulau yang sangat kaya dengan keindahan alam dan keragaman budayanya, kembali diusik oleh kepentingan – kepentingan yang mengatasnamakan “kebaikan bersama”. Presiden Jokowi beserta jajarannya berhasil untuk memperpanjang izin ekspor freeport dari 8 Agustus 2016 menjadi 11 Januari 2017. Ternyata masyarakat papua yang memberikan harapan besar kepada Jokowi, kurang cukup kuat untuk melawan kolonialisme parsial dari penjajah. Jokowi yang pada tahun 2014 menang telak di Papua, tidak mampu melawan hegemoni korporasi kaum kapitalis yang mengeruk kekayaan alam dari bumi Papua tanpa keadilan untuk rakyat papua. Rakyat papua yang tidak pernah menikmati kekayaan alamnya sendiri kembali harus menelan pil pahit untuk merdeka dari para penjajah. Data menunjukan indeks kekerasan menurut tipe konflik pada tahun 2014 dalam insiden kekerasan tipe konflik sumber daya, Papua memiliki intensitas tertinggi yakni dengan nilai acuan indeks intensitas kekerasan sejumlah angka 61 dengan korelasi kekerasan tipe konflik separatisme yang tertinggi yakni pada angka 42. Data ini didukung dengan meningkatnya gerakan separatis yang terjadi ketika isu – isu yang berkaitan tentang perpanjangan kontrak freeport menghangat kembali. Kondisi ini menimbulkan berbagai spekulasi tentang apa yang melatar belakangi setiap kekerasan dan gerakan separatis yang terjadi di papua. Keadaan ini semakin diperparah dengan perilaku “rasis” terhadap pemuda papua di beberapa daerah yang menginginkan papua merdeka. “NKRI harga mati” katanya. Namun, tak ada solusi dari setiap permasalahan di papua. Hanya pemuda papua yang diinjak – injak dan dianggap teroris ketika mereka memperjuangkan kehidupan saudara mereka.

2 tahun pemerintahan Jokowi-Jk belum memberikan peningkatan berarti jika tidak ingin dikatakan gagal. Meskipun terdapat beberapa peningkatan dari sisi ketahanan pangan, infrakstruktur, dan pelayanan kesehatan, namun hal tersebut belum cukup untuk menjawab harapan tinggi dari masyarakat. Masih banyak harapan – harapan dari kaum tertindas mengenai kesejahteraan. 2 tahun pemerintahan Jokowi – Jk masih diwarnai dengan Isu sara yang menjadi masalah tersendiri pada kehidupan horisontal bermasyarakat. Revolusi mental yang di gembar – gemborkan pun belum terlihat implementasi. 2 tahun pemerintahan pemerintahan Jokowi-Jk merupakan momentum untuk setiap elemen bangsa bermawas diri. 2 tahun Jokowi-Jk merupakan sebuah peringatan bahwa mewujudkan kesejahteraan bukan hanya tugas dari penguasa, tapi seluruh elemen bangsa.

Referensi:

1.http://nasional.kompas.com/read/2014/10/20/1318031/Ini.Pidato.Perdana.Jokowi.sebagai.Presiden.ke-7.RI

2.http://nasional.kompas.com/read/2014/05/21/0754454/.Nawa.Cita.9.Agenda.Prioritas.Jokowi-JK

3. http://www.voaindonesia.com/a/presiden-joko-widodo-resmi-dilantik/2489271.html

4. http://kbbi.web.id

5. http://maritimnews.com/berikut-catatan-tentang-kejayaan-maritim-kerajaan-nusantara/

6. http://koran-sindo.com/news.php?r=0&n=13&date=2016-04-04

7. http://koran-sindo.com/news.php?r=0&n=13&date=2016-04-04

8.https://nutroffish.wordpress.com/2011/06/25/ntpi-indikator-kesejahteraan-pembudidaya-ikan/

9.http://nasional.sindonews.com/read/1131476/12/menteri-esdm-arcandra-tahar-dicopot-1471271010

10. http://economy.okezone.com/read/2016/08/16/320/1464752/20-hari-menjabat-menteri-esdm-arcandra-tahar-sukses-perpanjang-izin-ekspor-freeport

11. https://www.selasar.com/politik/48-tahun-pt-freeport-mcmoran-dan-lingkaran-kekerasan-di-tanah-papua

12.http://nasional.kompas.com/read/2016/10/16/19545701/wasekjen.ppp.apresiasi.kinerja.dua.tahun.pemerintahan.jokowi-jk

13. http://www.sinonimkata.com/search.php

Christopher Jonatan
4214100121
Teknik Sistem Perkapalan

Posted by Vivat Press on

CERPEN : Sorban Kandang Kambing

(Adinda Aisya Zukhrufa – Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Gerakan ITS Menulis 2016)

Malam itu, kalaulah boleh dibilang, sejujurnya sangat indah. Cahaya bulan samar – samar menelisik di antara awan malam yang ingin pulang. Udara lembab sehabis gerimis sepanjang sore memenuhi seluruh beranda. Angin sedang menyapa rerumputan liar dan bercerita tentang apa yang dilakukannya seharian. Sementara di belakang rumah, tikus – tikus sedang beradu mulut berebut sisa makan siang. Anehnya seperti di dunia manusia, tikus betina-lah yang menang.

Namun, menang kalah tak menjadi masalah bagi Suryodi, yang kini dilanda dilema. Di dalam dadanya, tersangkut sebuah rahasia, misteri yang tengah happening di kampungnya, Mujut. Sedangkan di tangannya, dia memegang nasib seseorang yang jika tidak ia lepaskan, maka akan menjerat leher orang lain. Sungguh, waktu dan tempat benar – benar tidak berpihak pada Suryodi. Gurat – gurat resah tergambar jelas menghiasi wajahnya.

Semua kegelisahan Suryodi bermula pada suatu Sabtu, saat Mujut digemparkan oleh kasus kriminal yang sangat jarang terjadi, yaitu: pencurian kambing. Korban bernama Haji Makdud, sudah haji tiga kali dan sudah mendaftar haji untuk empat kali lagi. Punya toko sepatu, warnet, stand baju muslim untuk anak – anak di pasar dan sedang membangun bisnis laundry. Hobinya berganti – ganti, dari main badminton, main voli, main catur hingga yang terakhir, memelihara kambing. Sial oh sial, kambing kesayangannya kini tidak tahu dimana rimbanya.

Haji Makdud terpukul dan langsung melapor ke kelurahan. Ia tiba di kelurahan tepat jam tujuh nol nol. Dia tahu kambingnya dicuri pukul enam lima puluh delapan. Dia sama sekali tidak membuang waktu.
“Lapor! Kambing saya hilang, Pak Lurah!” seru Haji Makdud.
“Silakan duduk, Pak Haji! Coba ceritakan kronologinya!”
Awalnya Haji Makdud berapi – api menceritakan bagaimana ia tidak menemukan kambingnya –yang ternyata namanya Syuaeb- di dalam kandangnya. Namun, ujung – ujungnya dia malah menawarkan Pak Lurah untuk memakai jasa laundry-nya.
“Murah, Pak! Sekilo Cuma tiga ribu. Dijamin bersih, wangi!” kata Haji Makdud.

Pak Lurah berpikir keras. Bukan, dia sama sekali tidak memikirkan tawaran laundry Haji Makdud. Dia memikirkan bagaimana menemukan Syuaeb.
Tiba – tiba sebuah ide meluncur di kepalanya. Dipanggilnya Haq, keponakannya yang jago menggambar, sedang kuliah di Desain ITS. Seperti namanya, Haq = benar, Haq selalu benar dalam menggambar seseorang. Atau dalam kasus kriminal kali ini, seekor kambing.

“Coba Pak Haji sebutkan ciri – ciri fisik dari Syuaeb ini, Pak! Bentuk kepalanya, ukuran dahinya, panjang rahangnya, pola belangnya, semuanya.” Haq bersemangat.
“Dahinya lebar, seperti papan tulis.
Kepalanya lonjong, macam telur ayam.
Rahangnya bersih karena rajin gosok gigi.”
Haq dengan serius membuat sketsa wajah kambing sesuai ciri – ciri tadi. Dia memulai dengan satu lingkaran lalu lingkaran berikutnya, lalu mulai membentuk pola wajah.
“Seperti ini, Pak?”
“Emm, matanya agak kurang bulat sepertinya.”
Haq memperbaiki sketsanya.
“Kalau begini, Pak?”
“Emm, belangnya di sekitar telinga, bukan hidung. Di sebelah sini.”
Haq lagi – lagi memperbaiki sketsanya.
“Bagaimana dengan ini, Pak?”
Haji Makdud tertegun. Dipandanginya sketsa wajah Syuaeb yang digambar Haq. Begitu mirip, sempurna. Dahinya, belangnya, rahangnya. Membuatnya rindu pada kambingnya yang satu itu. Haji Makdud terisak dan akhirnya menangis tersedu.

***

Sungguh, dunia ini sebenarnya tidak dimiliki oleh orang – orang kaya, pejabat negara atau raja – raja sepanjang masa. Dunia sesungguhnya hanya dimiliki oleh dua orang: sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.
Kalau kau setuju artinya kau harus merelakan fakta bahwa sekarang dunia berada dalam genggaman Mulyoni dan kekasih barunya, Karmela. Mereka baru bertemu kemarin, langsung jatuh cinta, dan pacaran malam harinya. Mulyoni terhipnotis oleh mata Mela yang teduh, bagaikan sebuah rumah yang memintanya pulang. Sedangkan Mela terkagum oleh deretan gigi Mulyoni yang rapi tanpa kawat gigi, membuat senyumnya menawan macam bulan tinggal sepertiga.
Cinta memang aneh dan juga ajaib. Mulyoni memikirkan setiap kemungkinan bahwa sesungguhnya sangat tidak mungkin dia bisa bertemu Mela, namun rupanya kehidupan memilihkannya potongan nasib yang sangat indah itu. Memang benar, kalau bisa dibilang pertemuan Mulyoni dan Mela dihubungkan oleh kebetulan – kebetulan yang sebenarnya tidak ada hubungannya.

Jadi awalnya ada seorang gadis bernama Soleha berusaha mencarikan nasi goreng untuk ayahnya yang kelaparan. Mau dikata apa, warung nasi goreng langganannya tutup. Soleha lantas pergi ke kampung lain untuk mendapatkan nasi goreng, namun sayangnya begitu dia sudah membeli nasi goreng, dia baru ingat kalau ayahnya meminta dibelikan soto ayam. Tak putus asa, Soleha berputar menuju warung soto ayam di tengah kampung. Namun, perjalanannya dihentikan oleh lorong gelap yang dijaga seekor anjing, menanti untuk menakut – nakuti orang yang lewat. Tidak ada jalan lain.
Di tengah kebingungan itu, Soleha bertemu Mulyoni, teman SMA-nya. Dipanggilnya Mulyoni dan disuruhnya berjalan dulu di lorong gelap itu. Mulyoni berlagak seperti pahlawan, pahlawan yang takut anjing sepertinya, sebab detik berikutnya dia lari terbirit – birit dikejar anjing yang tiba – tiba muncul dari belakang. Mulyoni berusaha mencari perlindungan dan ia melihat sebuah rumah bercat hijau lebih dari cukup sebagai tempat bersembunyi. Seperti yang sudah kau tebak, rumah bercat hijau itu rumah Karmela.

Mulyoni membayangkan, kalau saja warung nasi goreng langganan Soleha buka, dia tidak akan bertemu Mela. Kalau saja Soleha tidak ingat kalau ayahnya pesan soto ayam, dia tidak akan bertemu Mela. Kalau saja dia tidak dikejar – kejar anjing, dia tidak akan bertemu Mela. Sungguh Kawan, kebetulan itu tidak ada. Ini benar – benar rancangan nasib dari yang Maha Kuasa.

***

Sudah seminggu lebih delapan jam lima puluh enam menit semenjak kasus pencurian kambing dan jangankan terdakwa, tersangka pun belum didapatkan. Sketsa wajah Syuaeb sudah disebar ke pelosok kampung Mujut, namun tidak ada seorang pun yang menemukannya. Ketidakpastian ini membuat desas – desus di antara warga. Hanya ada satu bukti kuat yang ditemukan di TKP, yaitu : sorban.

Kampung Mujut dengan segala keterbatasannya sayangnya tidak memiliki kantor polisi atau semacamnya, serta terlalu lugu untuk memecahkan teka – teki sorban pencuri yang tertinggal di kandang kambing. Bukan, itu bukan milik Haji Makdud. Haji Makdud tak suka pakai sorban.

Akhirnya tetua di sana memutuskan untuk membawa sorban kandang kambing ke orang yang paling pintar di Mujut, satu – satunya orang yang berhasil lulus sarjana, orang yang paling fasih bahasa inggrisnya, orang yang paling banyak punya buku sehingga bisa disebut perpustakaan kampung, tak lain dan tak bukan adalah Suryodi.

Suryodi sudah bisa menebak kalau tetua akan meminta bantuannya. Dia sendiri sudah bergerak dalam penyidikan kasus pencurian kambing itu sendirian. Dia telah mengumpulkan bukti, foto – foto di TKP dan menandai dimana saja pasar gelap untuk kambing curian. Ia menghubungkan gambar – gambar dengan benang, mencoret foto tersangka yang salah, menempelkan kliping – kliping koran, juga melakukan penyamaran. Bolehlah kota – kota besar punya banyak tim penyidik, tapi Suryodi seorang cukup sebagai Sherlock Holmes-nya Kampung Mujut.

Malang oh malang, mau dikata apa lagi, ternyata seluruh investigasi yang dilakukan Suryodi sia – sia, karena begitu ia melihat sorban kandang kambing tersebut, dia sudah bisa menebak siapa pelakunya, bahkan kalaulah disuruh menyebutkan nama seluruh keluarganya pun, dia sanggup.

“Tolong ya, Nak. Supaya Mujut tak tercoreng namanya.”
Suryodi tersenyum getir mendengar tetua yang memohon bantuannya. Di dalam dadanya, kini tersangkut sebuah rahasia, misteri yang tengah happening di kampungnya.

***

Malam harinya, Suryodi bergegas pergi ke rumah seseorang. Letaknya di Mujut sebelah utara, di samping warung kopi yang tak pernah sepi. Di depannya mengalir sungai jernih yang memantulkan cahaya bulan dengan sempurna. Airnya beriak – riak menyambut kedatangan Suryodi.

Waktu Suryodi tiba, ada Soleha, Mulyoni dan Karmela, sedang duduk di beranda rumah menikmati malam. Rupanya itu kencan ketujuh mereka (tentu saja Mulyoni dan Mela saja, Soleha tidak termasuk) dan Soleha menumbalkan diri sebagai obat nyamuk bagi kedua temannya. Entah bagaimana, Soleha ikhlas.

“Leha, bapak kamu ada?” tanya Suryodi.
Soleha mengangguk dan menyuruh Suryodi langsung masuk.
Suryodi mengecek kanan – kiri, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Bahkan dia mengecek sofa, barangkali ada alat penyadap ditaruh di sana.
Haji Rois, ayah Soleha, menemui Suryodi dengan perasaan setengah menebak tentang maksud kedatangan Suryodi ke rumahnya.
“Bukan, bukan aku pelakunya.” Seru Haji Rois. Bahkan Suryodi belum mengatakan sepatah kata pun.
“Bukan, bukan aku pelakunya.” Seru Haji Rois. Bahkan Suryodi hanya mengatakan selamat malam.

Perdebatan malam itu, antara Suryodi dan Haji Rois, berlangsung cukup alot. Haji Rois terus – terusan menyangkal bahwa ia bukan pelakunya setiap lima kata yang diucapkan Suryodi. Hal itu tidak berhenti sampai pada akhirnya Suryodi menunjukkan bukti pemungkasnya, sorban kandang kambing. Haji Rois langsung kehabisan suara.

“Ini sorban yang aku berikan, bukan, Pak Haji?”
Kebisuan Haji Rois justru menjawab semua pertanyaan.
“Aku sudah tahu sebenarnya. Tapi, sebagai kepala tim sukses Pak Haji tiga bulan lagi, aku tak bisa serta merta memberitahu publik bahwa Pak Haji ini pelakunya. Mana ada calon camat yang mencuri kambing! Lagipula, buat apa Pak Haji ini mencuri kambing?!” seru Suryodi.
“Aku bermimpi kalau kambing si Makdud bikin aku gagal jadi camat, makanya ku curi saja supaya nggak lagi jadi punya Makdud.”
Suryodi memutar bola matanya.
“Sekarang siapa yang harus disalahkan untuk kasus ini….” Suryodi bingung.

Sebagai tim sukses, dia harus memikirkan cara untuk membuat nama baik kliennya tidak tercemar. Barulah di tengah – tengah kebingungannya, Suryodi menyadari bahwa di sana, di depan pintu ruang tamu, berdiri seorang Mulyoni, terpaku mendengarkan setiap kata yang ia dengar.
Kalaulah cerita ini dijadikan film, pasti saat ini merupakan adegan dimana suasana hening dengan setiap tokohnya saling memandangi satu sama lain.

Tanpa banyak bicara, Mulyoni beranjak dan pergi menuju ke mushola. Dengan langkah cepat ia berusaha untuk mengungkapkan kebenaran. Corong mushola merupakan satu – satunya alat yang efektif untuk memberitahu seluruh kampung dalam satu kali bicara. Suryodi dan Haji Rois pun mengejar Mulyoni, mencegah segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Namun apalah daya, Mulyoni yang telah berpengalaman dikejar anjing, sudah sampai disana dan berdiri di depan corong bak jendral polisi mengungkapkan kebenaran.

Suara corong menguik ketika dihidupkan. Suryodi dan Haji Rois lemas.
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh. Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh.
“ Diberitahukan kepada seluruh warga Mujut, dari yang balita sampai yang sudah jadi buyut, bahwa saya, Mulyoni bin Rofiqi, mengakui bahwa saya otak tunggal dari pencurian kambing Haji Makdud tempo hari. Sekali lagi, saya Mulyoni bin Rofiqi, mengakui bahwa saya otak tunggal dari pencurian kambing Haji Makdud tempo hari. Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan hubungi saya sendiri. Terima kasih. Wassalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh.”
Seluruh kampung terkejut, Suryodi dan Haji Rois menjerit. Apa yang dilakukan Mulyoni?!

Meski begitu, bagi Mulyoni dia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah membalas budi kebaikan Haji Rois. Mulyoni membayangkan, kalau saja Haji Rois tidak kelaparan malam itu, dia tidak akan bertemu Mela. Kalau saja Haji Rois memesan nasi goreng saja dan tidak pernah memesan soto ayam, dia tidak akan bertemu Mela. Sungguh, cinta memang aneh dan juga ajaib.

***

Namun rupanya, pengakuan mengejutkan Mulyoni sama sekali tidak membantu Suryodi. Suryodi kini dilanda dilema. Di dalam dadanya, tersangkut sebuah rahasia, misteri yang tengah happening di Kampung Mujut. Sedangkan di tangannya, dia memegang nasib seseorang yang jika tidak ia lepaskan, maka akan menjerat leher orang lain.

Berhari – hari Suryodi termenung memikirkan apa yang sebaiknya dilakukannya. Membebaskan Mulyoni atau Haji Rois? Apalagi pemilihan camat tinggal beberapa minggu saja dan kini tersiar kabar bahwa Mulyoni akan diusir dari kampung karena perbuatannya. Untung saja Mela tetap setia pada Mulyoni.

Perasaan takut menghantui Suryodi, membuncah – buncah di setiap menitnya. Ia sungguh ingin sekali membela Mulyoni, tapi dia merasa tidak cukup berani.
Baru saja Suryodi hendak mengambil kopi, ia mendengar gemuruh yang asalnya dari ujung jalan. Rupa – rupanya itu adalah gerombolan warga dengan obor di tangan kanan dan tongkat di tangan kiri. Mereka beramai – ramai menuju rumah yang sama, rumah Mulyoni.
Suryodi tak jadi mengambil kopi. Disabetnya sandal dan ia langsung lari terhuyung – huyung mengikuti warga yang lain.
“Keluarkan Mulyoni dari kampung!”
“Ya!”
“Keluarkan pencuri dari kampung!”
“Ya!”

Mulyoni berdiri di beranda rumahnya, tangan kanannya membawa sebuah tas jinjing besar, namun itu tidak seberapa dibanding tas punggungnya, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat tangan Mela kekasihnya. Mendengar namanya diseru – serukan oleh seisi kampung tidak membuatnya kecewa, malahan dia tersenyum, merasa seperti atlit bulutangkis memenangkan medali.

Suryodi berada di barisan paling belakang, tertelan oleh punggung – punggung yang menjulang. Melihat Mulyoni dihimpit oleh tas – tas besarnya, sungguh mengiris nuraninya. Lantas ia mengumpulkan segala jenis keberanian yang tercecer di raganya. Tidak, dia bukannya tidak merasa takut. Berani memang tidak pernah tentang tidak merasa takut, berani adalah tentang melakukan sesuatu meskipun takut.

Detik berikutnya, Suryodi sudah berada di depan, membatasi Mulyoni dengan warga yang tengah muntab.
Suryodi mengatur suara.
“Oke, Bapak – Bapak, Ibu – Ibu, Saudara – Saudara, saya di sini hendak mengungkapkan kebenaran yang sebenar – benarnya. Saya sebagai seseorang yang diamanahi memecahkan misteri pencurian kambing Haji Makdud, ingin mengatakan bahwasanya……”
“Saya, Haji Rois, calon camat nomor urut dua, merupakan pelaku sebenarnya. Saudara Mulyoni bebas dari segala tuduhan.”
Haji Rois mengagetkan seluruh badan yang ada di sana. Suryodi terbengong, dan Mulyoni masih saja tersenyum.

Suryodi langsung menyeruak dalam keheningan dan menjelaskan segala hal yang terjadi dari a sampai z. Warga Mujut yang ada di sana saling ber’ohh’ satu sama lain. Namun rupanya senyap hanya terjadi sesaat. Begitu seluruh warga paham apa yang tengah terjadi, perhatian mereka tertuju pada si pencuri kambing sesungguhnya, Haji Rois.
“Usir Haji Rois!”
“Ya!”
Lantas seluruh warga Mujut berbaris mengiringi kepergian Haji Rois yang rupanya sudah bersiap – siap bersama Soleha. Suryodi yang penasaran bergerak menyelipkan diri ke samping Haji Rois.
“Buat apa Pak Haji ini tiba – tiba mengaku?” tanya Suryodi.
“Aku bermimpi kalau aku mengakui kalau aku yang mencuri kambing si Makdud dan diusir dari kampung, aku akan jadi camat di kampung sebelah!”
Suryodi memutar bola matanya.

Posted by Vivat Press on

BEM ITS Tak Lupa Beri Oleh-oleh Untuk Pak Arcandra Tahar

VIVAT PRESS

Kampus ITS Surabaya, Rabu 2 November 2016

Rangkaian acara peringatan Dies Natalis ITS ke-56 tahun ini turut menggelar acara Talkshow Kemandirian Energi, Sabtu (29/10). Tamu istimewa dalam acara tersebut adalah Dr Arcandra Tahar, Wakil Menteri Kementrian ESDM Kabinet Jokowi. Ia pun memberikan orasi ilmiah di hadapan peserta yang hadir pagi itu. Hingga seusai acara dan sebelum pulang dari Surabaya BEM ITS pun tak lupa memberikan oleh-oleh. Seperti apa oleh-oleh yang diberikan BEM ITS ?

Ditemui secara terpisah, Presiden BEM ITS, Novangga Ilmawan membenarkan bahwa oleh-oleh yang diberikan ke Pak Wamen tersebut adalah berupa buku dan hasil kajian. Ada dua tokoh yang mendapat oleh-oleh khusus tersebut, selain Arcandra Tahar ada juga Ir Satya Widya Yudha MSc, anggota komisi VII DPR RI Bidang Energi, SDM, Riset, Teknologi dan Lingkungan Hidup yang diberikan Buku Kajian Hasil Buatan BEM ITS.

Diakuinya, dua buku itu diberikan secara terpisah dan berbeda orang pula. Ia kebagian memberikan buku tentang Kedaulatan Energi untuk Kebangkitan Bangsa hasil diskusi Aliansi BEM Seluruh Indonesia Bidang Energi ke Pak AT. Sedangkan Pelaksana Tugas Harian (Plt) Menteri Kordinator Berani Ekspansi, M Ikhwan Rahman mendapat tugas memberikan Buku Kajian BEM ITS Tentang Analisa Urgensitas Revisi Undang-Undang No 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi ke Pak Satya Widya.

Dalam keterangannya, Novangga menjelaskan bahwa isi Buku Kedaulatan Energi untuk Kebangkitan Bangsa memuat tentang solusi-solusi atas beberapa permasalahan bangsa, yakni permasalahan Energi Baru Terbarukan, Minerba, Tata Kelola Migas dan Kelistrikan.

Dalam isi bukunya, memuat tentang solusi ril atas keempat permasalahan tadi dari hasil diskusi anggota BEM SI di bidang energi. Ia pun berharap, buku tersebut dapat menjadi salah satu referensi untuk kementrian ESDM. “Beliau bilang kalau sangat mengapresiasi oleh-oleh tersebut, ia juga berpesan agar mahasiswa selalu aktif untuk mengawal dan memberi referensi bagi kebijakan pemerintah,” jelas angga.

Sementara itu, Plt Ikhwan turut menjelaskan tentang bagiannya memberikan hasil kajian dari internal BEM ITS ke Pak Satya Widya. Menurutnya isi kajian buku kemarin adalah tentang analisa urgensitas revisi undang undang nomor 22 tahun 2001, tentang minyak dan gas bumi.

Sesuai yang kita ketahui, bahwa UU itu telah dibatalkan Mahkamah Konstitusi sejak 2012 dan harus direvisi. Namun, nyatanya sampai hari ini revisi terkait undang undang tersebut masih belum terjadi. “ Isi bukunya tentang tata kelola migas dari hulu sampai hilir, tentang tata kelola sekarang dan tata kelola yang ideal tentunya,” ungkap Ikhwan.

Diakuinya, alasan pemberian kajian itu ke Pak Satya karena memang beliau adalah wakil rakyat yang memegang amanah dari Rakyat Indonesia. “Apalagi beliau merupakan wakil ketua dari Komisi VII DPR RI yang menangani tentang energi dan mineral juga. Jadi bisa memberikan sudut pandang baru bagi yang berada di senanyan sana,” jelasnya.

Ia pun berharap agar revisi Undang Undang No 22 Tahun 2001 segera dilakukan sehingga dapat memberikan dampak nyata bagi Rakyat Indonesia. Kedaulatan di bidang energi pun bukan hanya menjadi mimpi lagi, namun bisa diwujudkan. ”Komentar beliau sangat antusias karena masyarakat dalam hal ini mahasiswa masih peduli tentang permasalahan yang ada di Indonesia,” pungkasnya. (akh).

Posted by Vivat Press on

YES Summit; Sebagai Wadah Berkumpulnya Engineer dan Saintis Muda

VIVAT PRESS

Kampus ITS Surabaya, 12 Oktober 2016

Rabu, (12/10) telah berlangsung acara YES Summit yang dibuka dengan kegiatan gala dinner. Kegiatan tersebut dihadiri oleh peserta YES Summit yang merupakan mahasiswa-mahasiswa se-Indonesia. Mereka datang dari berbagai kota di Indonesia seperti Kota Surabaya, Malang, Jogja, Semarang, Bogor, Bandung, Jakarta, Samarinda hingga Makassar.

YES Summit diadakan untuk memberikan gagasan serta inovasi dalam bidang energi dan maritim yang bisa direalisasikan guna membantu program pemerintah. Salah satu program yang ingin diangkat pada kegiatan ini adalah program NAWACITA. Oleh karena itu, acara ini diadakan untuk mewadahai para engineer dan saintis muda.

Pada Jumat (14/10), telah digelar company visit. Adapun perusahaan-perusahaan yang dikunjungi adalah Pelindo III serta PT Teluk Lamong, anak perusahaan PT Pelindo III. Perusahaan tersebut merupakan salah satu perusahaan yang memiliki tempat control room otomatis untuk mengendalikan kapal.
Kegiatan company visit ini membahas mengenai company profile, peran perusahaan terkait untuk Indonesia, visi dan misi perusahaan, proyek yang sedang dijalankan, sistem kerja serta harapan perusahaan untuk Indonesia.

M. Rifqi Mahendra, selaku ketua pelaksana mengatakan bahwa acara ini telah sukses digelar. “Banyak teman-teman yang antusias. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh mereka.,” jelasnya.

Ia juga berharap setelah diadakannya kegiatan ini, para mahasiswa mendapatkan ilmu mengenai energi dan maritim di Indonesia, terkait permasalahan yang dihadapi dan langkah apa yang bisa mahasiswa ambil baik di masa sekarang ataupun masa depan. “Kami berharap dengan diadakannya acara ini, para peserta dapat menjalin koneksi. Hal ini juga berguna untuk melatih komunikasi, kerjasama dan koordinasi untuk manajemen serta membuat suatu acara. Besar juga harapan kami untuk BEM ITS dapat melanjutkan acara yang banyak sekali manfaatnya seperti ini, ” pungkas mahasiswa yang akrab disapa Rifqi ini.

Setelah acara ini dilaksanakan, Rifqi menegaskan bahwa akan ada pembahasan lebih lanjut kepada pemerintah mengenai maritim dan energi. “Kami akan mencoba membuka obrolan dengan pemerintahan melalui PII guna memberikan rekomendasi kepada pemerintah. Harapannya agar pemerintah tau bahwa mahasiswa masih peduli dengan kemajuan bangsa,” ujarnya. (ath/yon)

Posted by Vivat Press on

MENINGKATKAN KUALITAS MEDIA INFORMASI MELALUI KUNJUNGAN KE JAWA POS

VIVAT PRESS

Graha Pena Jawa Pos, 14 Oktober 2016

“Selamat Datang Mahasiswa BEM ITS”, begitulah tulisan yang tertera pada saat kunjungan BEM ITS ke Jawa Pos pada Jumat siang kemarin (14/10), yang membuat hangat suasana. Bertempat di Jl. Ahmad Yani No. 88, tepatnya di Graha Pena Jawa Pos, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) BEM ITS mengadakan kunjungan ke Jawa Pos.

Sebagai salah satu sarana media komunikasi dan informasi di Ormawa ITS, Kementerian Kominfo BEM ITS serta Departemen Media Komunikasi dan Informasi perwakilan Ormawa ITS, perlu meningkatkan kualitas media komunikasi dan informasi. Oleh karena itu, Kementerian Kominfo BEM ITS melakukan kunjungan. Sekitar 30 mahasiswa ITS yang terdiri dari Kementrian Kominfo BEM ITS dan Departemen Kominfo perwakilan HMJ serta BEM-Fakultas menghadiri kunjungan ke Jawa Pos tersebut.

“Kunjungan ke redaksi Jawa Pos ini dilakukan agar bisa meningkatkan kualitas media informasi di Ormawa ITS dengan terjun langsung melihat kegiatan media nasional. Sehingga, kita dapat mengambil pelajaran dan pengetahuan bagaimana media menjalankan peran dan fungsi sehari-hari, yang nantinya dapat diterapkan di Ormawa ITS masing-masing,” ujar Nanda, salah satu staff Kementrian Kominfo BEM ITS yang turut serta dalam kunjungan tersebut.

Selama kunjungan, mahasiswa ditempatkan di ruang redaksi lantai 4 Graha Pena Jawa Pos yang terlihat unik dan menarik perhatian mahasiswa ITS. Tepatnya, mereka duduk di meja besar yang terletak di tengah-tengah ruangan. Penataan ruangan di Jawa Pos ini bersifat terbuka, di mana wartawan, redaktur dan pimpinan redaksi berada dalam satu ruangan. Dengan penataan inilah, Jawa Pos meraih penghargaan “The Coolest Newsroom in the World” dalam World Newspaper Congress.

Acara berjalan dengan lancar selama kurang lebih 1,5 jam. Dengan suasana yang “welcome”, kunjungan tidak hanya memperlihatkan sudut-sudut kantor, namun juga dilakukan sharing. Selama kunjungan, mahasiswa ditemani oleh Rudy Setyo Widodo, selaku Kepala Koordinator Kunjungan PT. Jawa Pos Koran. Beliau menjelaskan tentang sejarah Jawa Pos. Mulai dari proses pembuatan koran, mencari berita yang layak dimuat hingga berita tersebut siap diedarkan. Serta tentang peliputan, wartawan dan cara membuat layout koran yang menarik. Di akhir acara, terdapat sesi tanya jawab, di mana antusiasme mahasiswa ITS yang mengikuti kunjungan tersebut sangat baik. Terlontar banyak pertanyaan pada saat sesi tanya jawab tersebut.

Menurut Pelaksana Tugas Menteri Kominfo BEM ITS 2015/2016, Hanif Kukuh Wimala, pada kunjungan sebelumnya, hanya diikuti oleh BEM ITS saja, akan tetapi kali diikuti pula oleh perwakilan dari HMJ dan BEM Fakultas. Hal ini dikarenakan, kunjungan yang dilakukan sangat berguna, baik untuk BEM ITS dan Ormawa ITS. “Semoga ilmu yang didapatkan selama kunjungan di Jawa Pos dapat diterapkan oleh BEM ITS dan Ormawa ITS serta silaturahmi dengan Jawa Pos tetap terjaga,” ujarnya. (iid/yon)

Posted by Vivat Press on

Forum Bidang Ristek: Evaluasi Kondisi Keilmiahan di KM ITS

VIVAT PRESS

Sekretariat ITS Gedung KPA Lt. 3, 22-23 Agustus 2016

Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS menyiapkan langkah strategis bersama perwakilan Departemen ristek/Profkil/Piltek HMJ dan BEM F melalui Forum Bidang Ristek. Forum ini dilaksanakan pada Senin (22/8) hingga Selasa (23/8) di Sekretariat ITK, Gedung KPA Lt. 3. Hari pertama forum, membahas mengenai evaluasi kondisi keilmiahan di KM ITS. Selain itu, dibahas pula mengenai evaluasi pelaksanaan PKM 2016 yang telah usai, di mana ITS berada di peringkat 4. Pewacanaan adanya pola pengembangan keilmiahan lewat pelatihan berjenjang pun juga turut dibahas. “Forum hari pertama memang lebih difokuskan ke evaluasi sekaligus penjabaran pola pengembangan yang akan disepakati di hari kedua, terkait penjabaran pola pengembangan telah diwacanakan pasca pelaksanaan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 29,” tegas Adam Widi Bagaskarta, Pelaksana Tugas Menteri Riset dan Teknologi BEM ITS. Pada hari kedua, forum bidang ini mengadakan musyawarah untuk menyepakati beberapa hal yaitu, pembagian ranah tiap-tiap ormawa (HMJ, BEM F dan BEM ITS) dalam menyukseskan pelaksanaan PKM 2017, kemudian menyepakati pola pengembangan keilmiahan yang berjenjang, mulai dari Tingkat Dasar (TD) yang berisikan tentang pengenalan dasar-dasar menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI) dengan sasaran mahasiswa baru, Tingkat Menengah (TM) yang berisikan tentang bagaimana membuat karya itu tidak hanya sekedar tulisan tapi bisa dibuat prototype dan kemudian Tingkat Lanjut (TL) yang berisikan bagimana karya itu bisa dituliskan menjadi jurnal ilmiah atau dipublikasikan.

Selain itu juga disepakati program yang akan dijalankan bersam, yaitu masterpiece.its.ac.id, sebuah web karya kebanggaan ITS yang membutuhkan dukungan dari semua HMJ dan BEM F untuk bisa turut berpatisipasi menampilkan karyanya di web tersebut, juga pelaksanaan advokasi bersama untuk jalannya realisasi karya yang lebih baik karena tidak dipungkiri realisasi karya baik ke arah komersil ataupun pengabdian masyrakat tidak hanya tanggung jawab ormawa saja, tapi juga tanggung jawab bersama dengan ITS. Sehingga, perlu diadakan dialog-dialog agar realisasi karya bisa berjalan baik dan saling sinergi satu sama lain.

Terkait adanya pemberlakuan larangan bagi mahasiswa baru untuk mengikuti kegiatan yang diadakan jurusan, Adam menanggapi bahwa nantinya akan diatur secara lebih fleksibel mengenai pelaksanaannya oleh siapa, bisa oleh fakultas, bisa juga oleh HMJ bila jurusannya memperbolehkan.

“Harapannya, yang telah disepakati di raker ormawa bisa dilaksanakan dengan bersama dan dengan baik, dan kepengurusan selanjutnya juga bisa mengawal apa yang telah disepakati,” tukas Adam Widi Bagaskarta. (ristek/lut/yon)

Posted by Vivat Press on

BEM ITS Tampung Aspirasi Warga Kampung Mitra melalui Forum Bidang Sosmas

VIVAT PRESS

Balai Kelurahan Kejawan Putih Tambak, 05 September 2016

Forum bidang Sosial masyarakat (Sosmas) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS telah dilaksanakan di Balai Kelurahan Kejawan Putih Tambak RW 1, pada Senin (5/9). Forum yang diselenggarakan mulai jam 19.30 ini membahas dua pokok bahasan, yaitu sosialisasi proker dari BEM ITS serta pemaparan info-info lain terkait pengembangan fasilitas warga kampung mitra.

Forum ini adalah forum pertemuan kedua antara bidang Sosmas BEM ITS dengan warga RW 1 Kejawan Putih Tambak. Forum pertama yang dilakukan hanya sebatas perkenalan secara umum dari kedua belah pihak.Selain pihak BEM ITS, forum ini juga dihadiri oleh ketua RW 1 Kejawan Putih Tambak, beberapa ketua RT, perwakilan dari ibu-ibu PKK serta para remaja yang aktif di karang taruna setempat. Salah satu hasil yang disepakati pada forum ini adalah perihal acara Menuju Kampus Teknologi (MKT) yang membawahi tiga bidang yaitu bidang sosmas, ristek, dan perekonomian.

Sepanjang forum, banyak sekali masukan-masukan dari warga terkait teknis penyelenggaraan. “Selain untuk memaparkan proker kami (bidang sosmas BEM ITS), forum ini juga bertujuan untuk menampung aspirasi warga kampung mitra. Karena maksud kami adalah untuk memberdayakan warga kampung mitra, bukan sekedar menjalankan proker saja,” jelas Khoirul Anam, salah satu penanggung jawab agenda Sosmas BEM ITS.

Rangkaian kegiatan menuju acara MKT direncanakan akan dimeriahkan oleh penampilan warga setempat seperti penampilan tari india dan remo hingga pembacaan puisi. Rangkaian acara ini juga turut di semarakkan dengan pelatihan untuk menyiapkan makanan bergizi, pelatihan komputer, dan pelatihan hidroponik. Sedangkan ketika nanti acara digelar, sosmas BEM ITS akan menyediakan 92 stan yang bisa diisi oleh mahasiswa-mahasiswa ITS untuk menjajakan dagangannya.
Ketika ditanya masalah perkembangan kepedulian mahasiswa dengan warga, mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Teknik Elektro ITS itu mengaku bahwa mahasiswa ITS masih memiliki kepedulian yang minim dengan warga sekitar. “Banyak sekali mahasiswa ITS yang berpikir bahwa memberdayakan masyarakat hanya tugas bidang sosmas saja. Padahal kami hanyalah penghubung antara mahasiswa ITS dengan masyarakat. Mahasiswa ITS harusnya lebih peduli dengan masyarakat. Karena sejatinya mahasiswa lahir dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat,”pungkas mahasiswa yang akrab dipanggil Anam itu. (ath/yuk/yon)